Puasa bukan sekadar ritual penahanan diri dari makan dan minum. Di balik ibadah yang telah diwajibkan jauh sebelum Islam datang itu, tersimpan kedalaman ilmu yang mempertemukan dua dunia: ketakwaan spiritual dan keseimbangan fisiologis tubuh manusia. Inilah yang dikupas tuntas dalam diskusi kesehatan bersama Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cabang Lamongan — sebuah forum yang memadukan perspektif medis dan pandangan keagamaan dalam satu meja yang sama.
Ketika Dokter dan Kiai Duduk Semeja
Pada 6 Maret 2026, kantor PCNU Lamongan menjadi saksi pertemuan yang tidak biasa. Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang tergabung dalam LKNU Lamongan berkumpul bukan untuk rapat administratif, melainkan untuk sesuatu yang lebih substansial: mendiskusikan puasa dari sudut pandang ilmu kedokteran, sambil mendengarkan perspektif agama dari seorang kiai yang hadir di tengah-tengah mereka.
Diskusi yang dipandu oleh dr. Ananda ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan LKNU Lamongan hari ke-13 — sebuah forum silaturahmi sekaligus ruang berbagi ilmu yang diharapkan dapat mempererat hubungan antara lembaga kesehatan NU dengan PCNU Lamongan. Ketua LKNU Lamongan, dr. Budi, membuka diskusi dengan nada yang hangat namun penuh substansi.
“Di dalam puasa itu ada banyak hal yang menurut kesehatan sangat penting sekali. Demikian juga puasa itu akan menjadi haram kalau kemudian secara kesehatan kita tidak diperbolehkan untuk berpuasa dalam kondisi-kondisi tertentu.” — dr. Budi, Ketua LKNU Lamongan
Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting: Dua Nama, Dua Esensi, Satu Perwujudan
Salah satu temuan menarik yang disampaikan dr. Nanda dalam diskusi ini adalah bagaimana dunia sains Barat sesungguhnya tengah “menemukan kembali” apa yang sudah lama dipraktikkan umat Islam. Dalam literatur penelitian internasional — dari India, Inggris, hingga berbagai negara lain — puasa Ramadan tidak disebut sebagai puasa Ramadan, melainkan intermittent fasting.
Intermittent fasting adalah pola puasa terstruktur dengan rentang waktu yang tertentu. Dan puasa Ramadan, dengan jendela waktu sekitar 13 hingga 14 jam per hari, ternyata masuk persis dalam kategori itu. Lebih dari sekadar kebetulan, pola waktu ini terbukti secara ilmiah memberikan manfaat signifikan — terutama bagi penderita obesitas dan penyakit-penyakit degeneratif kronis seperti hipertensi dan diabetes.
“Dari beberapa survei dan hasil penelitian, ternyata efektif dan signifikansinya tinggi pada orang yang obesitas atau berat badannya berlebih. Selain itu juga bagus bagi pasien yang mengalami penyakit degeneratif.” — dr. Ananda
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar menjadi orang yang bertakwa. Namun ternyata, di balik perintah itu, tersimpan pula hikmah medis yang baru bisa diverifikasi sains berabad-abad kemudian. Inilah yang oleh para peserta diskusi diterima sebagai konfirmasi ilmiah atas kebenaran ajaran Islam.
Lima Manfaat Puasa yang Terbukti Secara Medis
Dalam pemaparannya, dr. Ananda merangkum sejumlah manfaat puasa yang telah teruji secara ilmiah:
1. Mengatur metabolisme tubuh. Puasa memberi kesempatan bagi organ-organ pencernaan untuk beristirahat. Lambung, usus, dan organ-organ terkait mendapat jeda dari aktivitas memproses makanan yang berlangsung hampir tanpa henti di hari-hari biasa.
2. Meningkatkan fokus dan kesehatan mental. Puasa yang dijalani dengan ketenangan pikiran terbukti membantu menstabilkan kondisi psikologis. Stres yang dikelola dengan baik selama puasa berkontribusi pada pengurangan keluhan psikosomatis.
3. Detoksifikasi alami. Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan dan pemulihan diri yang luar biasa. Saat tidak ada asupan makanan, tubuh mengalihkan energinya untuk membersihkan sel-sel yang rusak — proses yang dikenal dalam ilmu kedokteran sebagai autophagy.
4. Stabilisasi gula darah. Bagi penderita diabetes tipe 2, puasa yang terstruktur dapat membantu menstabilkan kadar glukosa darah — tentu dengan pengawasan dan konsultasi dokter.
5. Puasa sebagai gaya hidup sehat. Lebih dari sekadar ibadah musiman, pola makan terstruktur yang dipraktikkan selama Ramadan sejatinya bisa menjadi fondasi gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Berpuasa?
Islam adalah agama yang realistis. Ia tidak memaksakan kewajiban di luar kemampuan hamba-Nya. Dalam diskusi ini, dr. Ananda secara eksplisit menyebut kondisi-kondisi medis yang menjadikan puasa tidak dianjurkan, bahkan bisa berujung pada keharaman:
- Penderita diabetes tipe 1 — karena pankreas yang sudah tidak berfungsi menjadikan risiko puasa terlalu tinggi
- Ibu hamil trimester pertama — usia kehamilan 1–3 bulan adalah masa paling kritis bagi perkembangan janin
- Ibu menyusui — kebutuhan nutrisi bayi tidak boleh terganggu
- Penderita gangguan makan — kondisi ini justru bisa memperparah puasa jika dipaksakan
- Penderita dengan sistem imun lemah — seperti penderita kanker aktif atau HIV
- Kondisi dehidrasi berat — memaksakan puasa dalam kondisi ini, sebagaimana ditegaskan dr. Budi di awal, hukumnya bisa menjadi haram
Bagi ibu hamil yang tetap ingin berpuasa, dr. Ananda memberikan panduan: jika ingin berpuasa, lakukanlah pada trimester kedua (usia 4–6 bulan) atau trimester ketiga (7–9 bulan), dengan syarat mutlak: cek kondisi kesehatan terlebih dahulu dan dalam pengawasan dokter.
Mengurai Benang Kusut: Asam Lambung, Gastritis, dan GERD
Sesi tanya jawab membuka diskusi yang jauh lebih dalam. Banyak peserta yang mengaku menderita “asam lambung” dan mempertanyakan apakah penyakit ini bisa benar-benar sembuh. Pertanyaan sederhana ini memancing penjelasan medis yang sangat gamblang.
Dr. Ananda dan dr. Budi bersama-sama meluruskan kesalahpahaman yang sangat umum di masyarakat: asam lambung itu normal. Setiap orang memproduksinya setiap hari. Fungsinya adalah memecah makanan yang masuk ke dalam lambung menjadi glukosa dan energi. Masalah terjadi bukan karena asam lambungnya, melainkan karena kondisi yang menyertainya.
Ada tiga kondisi berbeda yang sering dicampur-adukkan:
Gastritis (Maag) — adalah peradangan pada dinding lambung. Menurut dr. Budi, penelitian ilmiah menemukan bahwa 70–80% kasus gastritis kronis disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori. Inilah mengapa dokter spesialis gastroenterologi sering merekomendasikan biopsi jaringan lambung untuk memastikan ada tidaknya infeksi bakteri ini. Jika positif, pengobatan dengan antibiotik untuk eradikasi bakteri menjadi pilihan utama — bukan sekadar antasida yang hanya meredakan gejala.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) — terjadi ketika katup atau klep antara lambung dan kerongkongan tidak menutup dengan sempurna, sehingga asam lambung naik ke atas. Gejalanya khas: dada terasa panas, mulut terasa asam, hingga sesak napas yang sering disalahartikan sebagai masalah paru-paru.
Gastritis akibat obat-obatan — konsumsi obat golongan NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs) seperti asam mefenamat, atau jamu-jamu yang mengandung deksametason dalam jangka panjang, dapat merusak dinding lambung. Dalam kasus ekstrem, bukan sekadar radang — lambung bisa bocor.
“Kalau antasida itu sifatnya simptomatik — mengurangi keluhan saja, tidak mengobati penyebab utamanya. Kalau ada kuman Helicobacter pylori, maka harus dieradikasi dengan antibiotik agar tidak terus kambuh.” — dr. Budi
Pertanyaan klasik “apakah maag bisa sembuh?” pun mendapat jawaban yang melegakan. dr. Ananda memberikan pedoman praktis: jika dalam tiga minggu tidak kambuh, itu adalah pertanda lambung sedang dalam proses penyembuhan. Kuncinya adalah konsistensi menjaga pola makan dan menghindari pemicu — makanan pedas, asam, kopi sebelum perut terisi, serta kebiasaan makan berlebihan.
Hidrasi dan Pola Makan: Kunci Puasa yang Berkualitas
Diskusi juga menyentuh soal kebutuhan cairan selama berpuasa. Secara medis, kebutuhan cairan minimal manusia adalah 30 cc per kilogram berat badan per 24 jam. Artinya, seseorang dengan berat badan 70 kg membutuhkan minimal 2.100 ml atau sekitar 2,1 liter air per hari. Maksimalnya dibatasi 3 liter, karena kelebihan cairan pun membebani ginjal.
Formula praktis yang dibagikan adalah pola 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas selama malam hari, dan dua gelas saat sahur. Sederhana, namun efektif untuk mencegah dehidrasi selama 13–14 jam berpuasa.
Soal pilihan makanan, dr. Ananda menekankan pentingnya karbohidrat kompleks — seperti oatmeal dan beras merah — yang dicerna lebih lambat sehingga memberikan energi tahan lama. Ini yang membedakan antara orang yang lemas saat puasa dengan yang tetap bugar: pilihannya bukan pada “banyak atau sedikit makan,” melainkan pada “apa yang dimakan.”
Gorengan dan minuman es — dua makanan terfavorit saat berbuka — justru berada di posisi teratas daftar makanan yang perlu diwaspadai. Bukan dilarang, tapi perlu kesadaran bahwa konsumsi berlebihan secara jangka panjang berpotensi merusak hati (fatty liver).
Pikiran Tenang, Tubuh Sehat: Dimensi Psikosomatik Puasa
Salah satu poin paling menarik dari diskusi ini adalah ketika para dokter berbicara tentang hubungan antara pikiran dan kondisi lambung. Stres terbukti merangsang produksi asam lambung secara berlebihan. Maka, orang yang menjalani puasa dengan ketenangan batin — bukan dengan kecemasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan — justru cenderung lebih sehat secara fisik.
Paradoks yang sering terjadi adalah: orang yang terlalu khawatir tentang penyakitnya saat Lebaran, justru mengalami kambuhnya asam lambung karena faktor psikosomatik — bukan semata-mata karena makanannya. Di sinilah dimensi spiritual puasa bertemu dengan ilmu kedokteran modern: ketenangan jiwa yang dilatih selama Ramadan adalah obat yang nyata.
“Pada prinsipnya berpuasa itu menyehatkan, karena mengistirahatkan organ tubuh. Tapi dengan syarat: puasanya tidak balas dendam saat berbuka. Semua harus diatur dalam gerakan hidup sehat — olahraga 30 menit, makanan gizi seimbang, kurangi tiga putih: gula, tepung, dan garam berlebihan.” — dr. Ananda
Refleksi: Puasa sebagai Madrasah Kesehatan
Diskusi LKNU Lamongan pada 6 Maret 2026 ini menyimpan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar tanya jawab medis. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan modern, ketika diteliti dengan jujur, seringkali bermuara pada konfirmasi atas kebijaksanaan ajaran Islam yang telah berusia ratusan tahun.
Para dokter NU yang hadir tidak hanya membawa stetoskop, tetapi juga kesadaran bahwa tugas mereka adalah menjembatani ilmu dengan iman — menjelaskan mengapa sesuatu yang diperintahkan agama ternyata juga masuk akal secara sains. Dan itu adalah bentuk dakwah tersendiri: dakwah melalui ilmu, dakwah melalui kesehatan.
LKNU Lamongan, dengan forum-forum seperti ini, sedang membangun sesuatu yang penting: budaya literasi kesehatan di kalangan warga NU. Bahwa sehat bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab beragama — karena tubuh yang sehat adalah amanah yang harus dijaga.
📺 Saksikan rekaman lengkap diskusi ini di YouTube:
Diskusi Kesehatan LKNU Lamongan — Puasa dan Kesehatan (6 Maret 2026)
Rekaman mencakup sesi pemaparan materi, tanya jawab, hingga perspektif keagamaan dari kiai yang hadir dalam forum tersebut.