Diskusi manajemen dakwah digital yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Lamongan pada 24 Februari 2026 menyimpan pelajaran strategis yang melampaui sekadar teknis bermedia sosial. Inilah ulasan mendalamnya.
Sebuah forum kecil digelar di Lamongan pada 24 Februari 2026. Tidak ada spanduk besar, tidak ada ribuan peserta. Yang ada hanyalah sekelompok pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Lamongan yang duduk melingkar, mendengarkan paparan seorang dosen dari Gresik bernama M. Sunan Alfar. Temanya sederhana namun mendesak: manajemen dakwah di era digital.
Namun dari forum yang tampak sederhana itu, mengalir sebuah diskusi yang justru menyentuh akar persoalan yang selama ini jarang dibicarakan secara terus-terang di lingkungan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Bukan hanya soal bagaimana membuat konten, tapi soal mengapa NU — dengan jutaan warga dan ribuan kiai — masih kalah hadir di ruang digital dibanding kelompok-kelompok yang jauh lebih kecil.
Rekaman diskusi tersebut kini tersedia di YouTube dan dapat disaksikan di sini:
Ketika Forum Kecil Memunculkan Pertanyaan Besar
Ketua LDNU Lamongan membuka forum dengan catatan yang jujur. Ia dan timnya, kata beliau, adalah pengurus baru yang datang dengan niat belajar sungguh-sungguh. “Harapan kami benar-benar minta bimbingan, benar-benar minta ilmu tentang masalah dakwah khususnya dakwah secara digital,” ujarnya.
Kejujuran itu justru menjadi pintu masuk yang produktif. Sebab dari situlah diskusi mengalir ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih substantif: Mengapa lembaga dakwah NU belum punya akun Instagram? Mengapa pengikut media sosial tokoh-tokoh NU bahkan belum menyentuh angka seribu? Dan yang paling menggugah — mengapa dakwah NU yang jelas-jelas berlogo bintang sembilan bisa kalah gaung dibanding media-media pinggiran yang hanya mengandalkan viralitas?
“Kok kemudian LDNU kalah dengan media-media yang cukup viral saja? Kita dakwah yang jelas-jelas logonya bintang sembilan, tapi kalah?”
— Peserta diskusi, LDNU Lamongan, 24 Februari 2026
Pertanyaan itu bukan keluhan. Ia adalah diagnosis.
Media Bukan Tuhan: Meluruskan Mindset Awal
Sebelum berbicara soal strategi konten atau algoritma, M. Sunan Alfar — narasumber yang dihadirkan dari Gresik — terlebih dahulu meluruskan cara pandang terhadap media digital itu sendiri. Pesannya tegas: media adalah alat, bukan tujuan.
“Media ini hanya tools, hanya alat bantu,” kata beliau. Ia mengilustrasikannya dengan pertanyaan retoris yang mengena: bayangkan jika listrik padam sehari atau WiFi mati satu jam. Siapa yang paling sedih? Mereka yang mendewakan platform-lah yang akan paling terasa kehilangan arahnya.
Menurut Sunan Alfar, ada tiga fondasi yang harus ditata lebih dahulu sebelum terjun ke dunia digital: value (nilai yang ingin dipublikasikan), strategi (rencana dan manajemen yang terukur), dan akhlak atau branding (perilaku dan integritas yang melekat pada sosok pendakwah). Tanpa ketiga fondasi ini, kehadiran di media digital hanyalah kebisingan tanpa makna.
Tiga Fondasi Dakwah Digital menurut M. Sunan Alfar:
🟢 Value — Apa nilai yang ingin kita sampaikan kepada umat?
🟢 Strategi — Bagaimana rencana, jadwal, dan manajemen kontennya?
🟢 Akhlak / Branding — Apakah sosok pendakwah layak diteladani dan dipercaya?
Mengenal Sasaran: Satu Platform Tidak Cukup untuk Semua
Salah satu bagian paling praktis dari diskusi ini adalah ketika Sunan Alfar menjelaskan perbedaan karakter audiens berdasarkan usia dan platform yang cocok untuk masing-masing.
Remaja dan generasi muda, katanya, memiliki kebiasaan fast scrolling — mereka tidak sabar dengan konten panjang. Mereka adalah digital native yang lahir bersama TikTok dan YouTube Shorts. Konten untuk segmen ini harus padat, visual, dan langsung ke inti pesan dalam hitungan detik.
Sementara itu, kalangan pelajar dan mahasiswa lebih menyukai konten yang informatif dengan visualisasi yang tajam — infografis, data, dan penjelasan yang terstruktur. Adapun kalangan orang tua dan dewasa cenderung mencari solusi dan best practice. Mereka betah menonton kajian panjang di YouTube, seperti kajian Gus Baha atau Anwar Zahid.
Dari sisi platform, Sunan Alfar menyarankan agar lembaga dakwah cermat memilih:
- TikTok dan Instagram Reels — untuk video pendek, menjangkau generasi muda
- YouTube — untuk kajian panjang yang belum tergantikan
- Telegram atau WhatsApp Group — untuk komunitas dakwah yang lebih intim dan terorganisir
- Facebook — platform yang fleksibel, bisa menampung semua format dan masih memiliki basis pengguna loyal
Dari “Kiai Dampar” ke Panggung Digital: Tantangan Motivasi
Salah satu peserta menyampaikan observasi yang menarik sekaligus menyentuh. Ia menyebut bahwa para kiai yang tergabung dalam lembaga dakwah rata-rata adalah sosok yang ia sebut “kiai dampar” — ulama yang kedalaman ilmunya tidak diragukan, namun aktivitasnya terbatas pada pengajian di hadapan santri dan jamaah lokal. Mereka belum, atau enggan, masuk ke ruang digital.
“Kalau lihat materi atau penyampaiannya itu bagus, tapi lemah dalam pemanfaatan medium,” kata peserta tersebut. Pertanyaannya kemudian: bagaimana cara memotivasi para kiai ini untuk berdakwah melalui media?
Sunan Alfar memberikan jawaban yang pragmatis. Langkah pertama adalah membangun tim terlebih dahulu — khususnya anak-anak muda yang digital native, berusia sekitar 25 hingga 30 tahun, yang sudah fasih menggunakan aplikasi desain seperti Canva, dan terbiasa dengan ritme produksi konten. Jika tim sudah ada, barulah sowan kepada kiai, menawarkan diri untuk memediakan dakwah beliau.
“Kalau memang sudah ada sosok public figure yang akan kita mediakan, kita sangat tertolong. Sudah ada orangnya. Secara penyampaian bagus, secara materi juga bagus — tinggal medianya.”
— M. Sunan Alfar
Ia bahkan menyebut contoh ekstrem: ada ustaz yang menempatkan beberapa ponsel sekaligus untuk menciptakan kesan seolah banyak orang yang meliput kajiannya, padahal jamaahnya hampir tidak ada. Ini bukan untuk ditiru, tapi untuk menyadarkan: bahwa di luar sana, ada pihak-pihak yang sangat serius memanfaatkan media — sementara NU yang memiliki konten berkualitas justru masih berdiam diri.
NU: Terlalu Besar untuk Sekadar Menjadi Follower
Bagian paling kritis dari diskusi ini datang ketika seorang peserta menyitir pemikiran Yuval Noah Harari: bahwa di masa depan, manusia akan terbagi menjadi dua kluster — mereka yang menguasai dan mereka yang sekadar menjadi follower.
Peserta itu lalu menunjuk fakta yang ironis: banyak warga NU yang feed media sosialnya justru dipenuhi konten dari akun-akun yang tidak berafiliasi dengan NU. Satu klik jari mereka menghasilkan keuntungan bagi penguasa algoritma yang asing dari nilai-nilai keislaman ahlussunnah wal jamaah. NU hadir secara fisik di mana-mana, tapi absen secara digital.
Sunan Alfar merespons dengan analogi sepakbola ala José Mourinho: “Pertahanan yang paling kuat adalah menyerang.” Jika NU tidak mau menjadi follower, maka tidak ada pilihan lain kecuali aktif menjadi kreator — memproduksi konten, membangun kanal, dan mengisi algoritma dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Seorang peserta lain menambahkan perspektif yang lebih luas: NU sebagai ormas terbesar seharusnya mampu mendesain strategi media yang setidaknya mampu mengimbangi, kalau tidak menghambat, daya rusak konten-konten bermasalah yang terus beredar.
“Kita punya amunisi yang banyak. Yang muda ada. Tidak harus LDNU yang meroket, tapi LDNU bisa jadi medianya — memfasilitasi kiai-kiai lokal agar terpublikasikan,” ujar peserta tersebut.
Pelajaran yang Dibawa Pulang
Forum LDNU Lamongan pada Februari 2026 itu mungkin tidak menghasilkan resolusi besar. Tidak ada keputusan kelembagaan yang diumumkan, tidak ada program kerja yang langsung ditetapkan. Namun diskusi itu meninggalkan sesuatu yang lebih penting dari sekadar keputusan: sebuah kesadaran bersama.
Bahwa NU tidak kekurangan ulama. Tidak kekurangan ilmu. Tidak kekurangan konten. Yang masih perlu dibangun adalah ekosistem: tim muda yang melek digital, kesediaan para kiai untuk diperkenalkan kepada dunia yang lebih luas, dan yang paling mendasar — keyakinan bahwa berdakwah di media adalah ibadah yang sama mulianya dengan berdakwah di atas mimbar.
Sebab dakwah yang tidak sampai kepada mad’u-nya, betapa pun mulia niatnya, akan menjadi sia-sia. Dan di era ini, jalan menuju umat semakin banyak melewati layar ponsel.
Saksikan rekaman diskusi selengkapnya: