📅 Sabtu, 13 Juni 2026  |  27 Dzulhijjah 1447 H

Road Map Ekonomi LPNU Lamongan: Enam Langkah Membangun Kemandirian dari Ranting hingga Pasar Modern

Ekonomi & Organisasi

LPNU Lamongan memetakan enam langkah strategis pembangunan ekonomi berbasis organisasi — dari legalitas holding company hingga distribusi produk ke seluruh ranting — dalam diskusi Ramadan yang digelar bersama PCNU Lamongan, 25 Februari 2026.

Ekonomi keumatan bukan sekadar wacana. Di balik forum-forum diskusi yang tampak sederhana, kerap tersimpan peta jalan yang — jika dijalankan dengan konsisten — mampu mengubah struktur perekonomian di akar rumput secara nyata. Hal inilah yang menjadi ruh dari Diskusi Ramadan ke-4 PCNU Lamongan, yang digelar pada 25 Februari 2026 dengan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Lamongan sebagai penyelenggara sekaligus narasumber utama.

Dipandu oleh Ketua LPNU Lamongan, Tarmudi, SHI, dan dibuka oleh sambutan Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan, KH. Hanafi, diskusi ini mengupas secara gamblang peta jalan (road map) ekonomi LPNU Lamongan — mulai dari membangun fondasi kelembagaan yang kokoh, hingga strategi menembus pasar modern dengan produk-produk ranting NU.

Forum ini juga menjadi ruang refleksi atas pengalaman periode sebelumnya: apa yang berhasil, apa yang gagal, dan mengapa. Kejujuran itu yang membuat diskusi ini terasa berbeda dari sekadar paparan program.


Pembangunan Ekonomi: Prioritas Kedua Hasil Pra-Musker

Dalam sambutannya, KH. Hanafi menegaskan bahwa pengembangan ekonomi warga NU telah ditetapkan sebagai prioritas kedua dalam hasil Pra-Musyawarah Kerja (Pra-Musker) PCNU Lamongan — menempati posisi setelah pembangunan Masjid Agung. Penegasan ini bukan sekadar formalitas; ini adalah sinyal bahwa gerak ekonomi organisasi perlu ditopang oleh seluruh elemen kepengurusan, bukan hanya LPNU sendiri.

“Apapun yang menjadi keputusan dan perencanaan program dari LPNU, mari kita dukung bersama-sama agar kesejahteraan umat ini menjadi prioritas buat kita sekalian.”

— KH. Hanafi, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan

Dukungan dari pimpinan tertinggi tanfidziyah ini menjadi konteks penting: road map LPNU bukan dokumen internal lembaga semata, melainkan bagian dari agenda besar organisasi yang menuntut kolaborasi lintas lembaga dan banom.

Enam Langkah Road Map: Berurutan, Saling Mengunci

Tarmudi memaparkan bahwa road map LPNU Lamongan dirancang dalam enam tahapan yang berurutan dan saling bergantung. Satu tahap yang mandek akan menghambat seluruh rantai berikutnya. Inilah keenam langkah tersebut:

① Legalitas: Membangun Holding Company

Langkah pertama adalah memastikan entitas hukum yang jelas berbentuk holding company. Ini bukan sekadar formalitas administratif — tanpa entitas yang sah, kegiatan ekonomi akan berhenti seiring pergantian kepengurusan. “Kalau tulang punggungnya saja tidak ada, maka segalanya menjadi berat,” tegas Tarmudi.

② Struktur Organisasi: Mesin Operasional hingga Ranting

Alhamdulillah, struktur LPNU Lamongan saat ini telah terbentuk hingga tingkat MWC. Beberapa ranting masih dalam proses. Struktur ini bukan hiasan bagan organisasi — ia adalah mesin yang menentukan apakah distribusi produk bisa berjalan atau tidak. Dalam logika bisnis, siapa yang menguasai distribusi, dialah pemenangnya.

③ AMDK Nutres: Cash Flow Engine

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek Nutres dipilih sebagai penggerak arus kas (cash flow engine) di fase awal. Bukan tanpa alasan — memulai produk baru membutuhkan modal besar dan waktu panjang. Nutres dipilih karena sudah ada, tinggal dimasifkan distribusinya. Jika jalur distribusi ini sudah mengalir ke seluruh ranting, produk apapun yang menyusul akan lebih mudah masuk.

④ Scale Up: Satu Ranting, Satu Produk, Satu Brand

Setelah distribusi matang, saatnya membuka pintu bagi produk-produk ranting. Konsep “captive market lock” menjadi kuncinya: mengunci pasar internal NU terlebih dahulu sebelum merambah ke luar. Visi jangka panjangnya sederhana namun ambisius — siapapun yang membeli produk dari Lamongan, barangnya adalah produk warga NU.

⑤ Kemitraan Ritel Strategis: Masuk Gerai Tanpa Biaya

Produk ranting NU dirancang masuk ke jaringan ritel modern milik pembina LPNU tanpa biaya listing — sebuah keistimewaan yang tidak bisa diperoleh jika memasuki Indomaret atau Alfamart secara mandiri. Ini sekaligus membangun branding produk ranting di mata konsumen umum: produk yang sudah ada di rak ritel modern dipersepsikan sebagai produk yang telah mapan.

⑥ Satu Desa, Satu Ranting, Satu Produk

Puncak dari seluruh proses ini adalah munculnya ekosistem produk berbasis ranting yang organik — setiap ranting memiliki produk unggulan, dan setiap produk memiliki jalur distribusi yang jelas. Ini bukan sekadar program ekonomi; ini adalah tanda kebangkitan.

Pelajaran Pahit Periode Sebelumnya: SDM dan Kepercayaan

Salah satu momen paling jujur dalam diskusi ini adalah ketika para peserta membahas pengalaman usaha NU di periode sebelumnya — termasuk kegagalan Kulaan (platform belanja online-offline terintegrasi) dan penarikan saham oleh pemegang yang merasa tidak pernah diajak evaluasi.

Tarmudi menjelaskan bahwa kegagalan itu bukan karena produknya buruk, melainkan karena dua fondasi yang tidak dibangun sejak awal: SDM yang solid dan kepercayaan warga. Warga NU, sebagian besar, belum terbiasa dengan logika investasi industri — di mana tahun-tahun pertama adalah fase rugi yang normal, bukan sinyal untuk panik atau menarik modal.

“Ibarat tumbuhan yang belum berkembang sudah mati. Kita harus memastikan kondusivitas ekonomi di tahun pertama, mencegah konflik dini, dan menjaga kepercayaan pemegang saham.”

— Tarmudi, SHI, Ketua LPNU Lamongan

Yang menarik, Tarmudi mengungkap bahwa LPNU dalam periode ini justru sengaja tidak menggelar RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) di tahun-tahun awal — bukan karena menyembunyikan sesuatu, melainkan karena menjalankan pesan Kiai: “Usaha NU pokoknya jangan sampai tutup.” Fase rugi dijaga agar turun secara bertahap. Dan di tahun keempat, usaha tersebut mulai mencatatkan keuntungan.

Kulaan yang gagal di Lamongan pun ternyata berhasil diduplikasi oleh LPNU Pasuruan — dan berjalan dengan baik hingga sekarang. Perbedaannya hanya satu: tim yang solid dan dukungan menyeluruh dari seluruh kepengurusan, bukan dari LPNU saja.

Peluang Baru: Marketplace, Kopi, dan Program MBG

Diskusi juga memunculkan sejumlah peluang konkret yang langsung diperdebatkan secara produktif oleh para peserta.

Marketplace. Studi banding ke LP Ma’arif Kabupaten Malang mengungkap bahwa mereka telah memiliki platform jual-beli mandiri seperti Shopee. Namun Tarmudi memilih strategi berbeda: memanfaatkan marketplace yang sudah ada, bukan membangun sendiri. Biaya pembuatan marketplace besar, dan pasar internal NU Lamongan belum cukup terbentuk untuk menopangnya. Lebih baik berjualan di ekosistem yang sudah ramai, sambil membangun merek produk ranting secara konsisten.

Kopi. Salah satu peserta mengungkap fakta menarik: pasar kopi di Lamongan sangat besar — beliau sendiri menjual 6 hingga 12 ton kopi per bulan, setara kapasitas fabrikasi. Sayangnya, belum ada satu pun produk kopi berlabel NU yang berani menonjolkan identitasnya. Tarmudi, yang diketahui adalah produsen kopi Giras, membuka pintu: siapapun yang mau membuat merek kopi NU, bahan bakunya siap. Tantangannya justru ada di kesiapan mental dan kapasitas pemasaran.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini adalah peluang paling segar yang disinggung. Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mendorong agar seluruh SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di program MBG wajib menggunakan air minum bermerek dan berstandarisasi. Di Lamongan, AMDK berstandarisasi yang tersedia saat ini baru Nutres — produk milik jaringan NU. Artinya, jika regulasi ini berjalan, Nutres memiliki peluang menjadi pemasok tunggal untuk seluruh SPPG di Lamongan.

“Siapapun yang membeli produk dari Lamongan di marketplace manapun — kuning, hijau, atau hitam — barangnya adalah produk warga NU.”

Visi LPNU Lamongan

Sinergi Antar-Lembaga: Menghindari “Tawuran Ekonomi”

Satu catatan kritis yang disampaikan Tarmudi: bahaya dari masing-masing lembaga membangun unit ekonomi sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Jika dibiarkan, antar-lembaga bisa saling bersaing secara tidak sehat — sebuah ironi yang ia sebut dengan istilah jenaka namun serius: “tawuran ekonomi”.

Untuk mencegah itu, PCNU Lamongan pada November lalu telah mengumpulkan seluruh lembaga dan banom dalam satu forum konsolidasi. Tujuannya jelas: menyelaraskan gerak ekonomi, bukan menyeragamkannya. Setiap lembaga bisa punya produk dan program, selama berjalan dalam ekosistem yang saling menguatkan — bukan saling melemahkan.

Dari Diskusi ke Gerakan: Jalan Masih Panjang, tapi Petanya Sudah Ada

Diskusi Ramadan ke-4 PCNU Lamongan ini bukan sekadar forum tahunan. Ia adalah potret dari sebuah organisasi yang sedang belajar jujur tentang dirinya sendiri — mengevaluasi kegagalan, memotret potensi, dan menyusun ulang strategi dengan lebih matang.

Road map enam langkah LPNU Lamongan bukan blueprint yang sempurna. Tapi ia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari kesempurnaan: urutan yang masuk akal, dibangun dari pengalaman nyata, dan didukung oleh kerangka sinergi antar-lembaga yang mulai menguat.

Warga NU Lamongan berjumlah 80–90% dari total penduduk kabupaten. Potensi itu luar biasa. Yang kini dibutuhkan adalah sesuatu yang selalu menjadi titik lemah sekaligus titik kekuatan NU: kepercayaan, kesabaran, dan kerja bersama yang tidak berhenti di akhir satu kepengurusan.

📹 Saksikan Diskusi Lengkap

Tonton rekaman lengkap Diskusi Ramadan ke-4 PCNU Lamongan — Road Map Ekonomi LPNU Lamongan — di kanal YouTube resmi PCNU Lamongan:

▶ Tonton di YouTube

Bagikan: