Lamongan — Suasana khidmat sekaligus hangat menyelimuti Aula Gedung PC GP Ansor Lamongan, Kompleks Masjid NU KH. Abdurrahman Wahid, Karanglangit, pada Sabtu petang, 14 Maret 2026. Bertepatan dengan penghujung bulan Ramadan, jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan bersama seluruh lembaga, badan otonom (banom), dan Majelis Wakil Cabang (MWC) se-Kabupaten Lamongan menggelar silaturahmi sekaligus buka bersama. Namun di balik agenda seremonial itu, tersimpan sejumlah pesan strategis yang layak untuk dicermati lebih dalam: soal spiritualitas akhir Ramadan, soliditas ekonomi jamaah, tata kelola organisasi yang transparan, hingga arah digitalisasi administrasi NU.
Mengingatkan Kembali Ruh Itikaf di Sepuluh Hari Terakhir
Acara dibuka dengan refleksi tentang fenomena yang kerap terjadi menjelang akhir Ramadan: masjid dan musholla yang justru semakin lengang, sementara pusat-pusat perbelanjaan dan tempat perbelanjaan lebaran justru semakin ramai. Dalam sambutannya, pengurus PCNU Lamongan mengingatkan bahwa semestinya semangat ibadah harus semakin menguat di penghujung Ramadan, sejalan dengan anjuran itikaf di masjid, meski tidak harus dilakukan secara penuh 24 jam.
“Semestinya puasa semakin akhir, Ramadan semakin akhir, ibadah kita semakin kuat. Kalau bisa beriktikaf di masjid, meskipun tidak full 24 jam. Kita sebagai jajaran pengurus semestinya menjaga silaturahmi ini, karena ini termasuk salah satu tujuan puasa: la’allakum tattaqun, supaya kita menjadi orang-orang yang bertakwa.”
Pesan ini menjadi pengingat penting bagi jajaran pengurus NU di semua tingkatan bahwa keteladanan dimulai dari internal organisasi sendiri sebelum diserukan kepada warga secara lebih luas.
Kupon Pembangunan Masjid: Dari Keraguan Menuju Soliditas Ukhuwwah
Salah satu topik utama yang mengemuka dalam forum ini adalah perkembangan program penggalangan dana melalui kupon untuk pembangunan Masjid Gus Dur yang telah berjalan sejak pertengahan Desember 2025, atau kurang lebih tiga bulan pada saat acara berlangsung. Menariknya, pengurus secara jujur mengungkapkan bahwa program kupon ini sempat menuai pesimisme di internal panitia sendiri ketika pertama kali diluncurkan. Bahkan sempat muncul keberatan agar kepengurusan baru tidak terlalu sering mengandalkan skema tarikan atau iuran dari jamaah.
Namun realitas di lapangan berbicara lain. Skema kupon yang semula diragukan justru menjadi salah satu motor utama pendanaan pembangunan masjid. Disebutkan bahwa dari target dana yang telah dicanangkan, saat ini realisasinya sudah mencapai sekitar seperempat dari target keseluruhan, dengan sisa sekitar tiga perempat yang masih perlu dikumpulkan.
Capaian ini menggambarkan sebuah pelajaran penting tentang ukhuwwah nahdliyyin: bahwa soliditas ekonomi jamaah, ketika dikelola dengan kepercayaan dan transparansi, mampu menghadirkan hasil yang melampaui ekspektasi awal para penggagasnya sendiri.
Tata Kelola Transparan: Project Management Office dan “Tujuh Wali” Penjaga Amanah
Yang menarik dari pemaparan pengurus adalah pendekatan manajerial modern yang diterapkan dalam mengawal proyek pembangunan masjid ini. Pengurus memposisikan diri layaknya sebuah Project Management Office (PMO) yang berfungsi memonitor, mengawasi, dan mengevaluasi jalannya proyek, tanpa mengambil alih peran teknis pelaksanaan di lapangan.
Untuk mengawal proses ini secara struktural, dibentuk tim pembangunan dengan pembagian tugas yang jelas antara ketua tim, sekretaris, dan bendahara yang bertanggung jawab mengelola arus keuangan program. Selain itu, dibentuk pula tujuh sosok yang disebut sebagai “wali” penjaga pembangunan masjid, sebuah istilah yang digunakan secara metaforis untuk menggambarkan tanggung jawab moral dan pengawasan yang melekat pada mereka.
Aspek akuntabilitas turut ditekankan melalui mekanisme pelaporan keuangan yang rutin: laporan pengeluaran disampaikan setiap akhir pekan, sementara laporan pemasukan diperbarui secara berkala setiap kali ada dana yang masuk. Pendekatan seperti ini menjadi model penting bagi pengelolaan proyek-proyek keumatan di lingkungan NU, di mana kepercayaan jamaah harus terus dijaga melalui keterbukaan informasi, bukan sekadar retorika.
Menyongsong Digitalisasi Persuratan hingga Tingkat MWC
Forum ini juga menjadi ajang sosialisasi awal terkait kebijakan dari jajaran PBNU tentang pemberlakuan sistem digitalisasi administrasi persuratan yang akan diterapkan hingga tingkat MWC. Pengurus PCNU Lamongan menyampaikan bahwa akan ada bimbingan teknis (bimtek) khusus bagi para sekretaris MWC setelah Idul Fitri, sebagai persiapan agar seluruh proses surat-menyurat di lingkup MWC dapat beralih ke sistem aplikasi.
Langkah ini sejalan dengan arah besar transformasi digital yang tengah didorong oleh NU secara struktural, di mana tertib administrasi menjadi salah satu fondasi penting bagi penguatan organisasi di seluruh tingkatan, termasuk di level kecamatan.
Refleksi tentang Kepemimpinan Lintas Generasi
Bagian yang tidak kalah reflektif dari forum ini adalah pandangan salah satu tokoh senior yang hadir mengenai pola regenerasi kepengurusan NU. Ia menyampaikan pengamatan pribadinya bahwa dalam banyak periodisasi organisasi, kepengurusan yang lebih junior seringkali dinilai kurang matang dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih senior. Namun, secara pribadi ia menilai bahwa kepengurusan PCNU Lamongan periode saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya: lebih amanah, lebih bergairah, dan secara manajerial menunjukkan kinerja yang lebih baik dari sisi tata kelola kegiatan.
Pandangan ini menegaskan sebuah prinsip penting dalam tradisi kepemimpinan NU, bahwa jabatan kepengurusan bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara sungguh-sungguh, terlepas dari faktor usia maupun senioritas.
Seruan untuk Percepatan dan Kebersamaan
Menjelang penutup, pengurus kembali menegaskan pentingnya inisiatif dari setiap MWC untuk aktif mengoordinasikan pengumpulan kupon yang belum terealisasi, tanpa perlu menunggu instruksi atau menunggu pihak lain bergerak lebih dulu. Semangat gotong royong dan kepedulian bersama ditekankan sebagai kunci utama agar pembangunan Masjid Gus Dur dapat segera rampung sesuai harapan seluruh warga Nahdliyyin Lamongan.
Acara ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat oleh jamaah yang hadir, menandai kekhusyukan sekaligus kehangatan ukhuwwah di penghujung bulan suci Ramadan.
Selengkapnya, dokumentasi acara Buka Bersama Pengurus PCNU Lamongan bersama seluruh Lembaga, Banom, dan MWC ini dapat disaksikan melalui tayangan YouTube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=oHUpxx0vLGE.