Artikel ini merupakan ulasan diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PCNU Lamongan pada 8 Maret 2026. Rekaman lengkap dapat disaksikan melalui tautan YouTube di bagian akhir tulisan.
Ketika Sawah Berbicara tentang Peradaban
Ada sebuah paradoks yang jarang kita sadari: bangsa yang mengaku agraris justru sering lupa bahwa pertanian bukan sekadar urusan tanah dan benih. Di balik pematang sawah yang kita lewati setiap hari, tersimpan ribuan tahun sejarah, spiritualitas, dan kecerdasan ekologis yang diwariskan nenek moyang. Inilah yang coba diungkap dalam diskusi bertajuk Pertanian dan Kebudayaan yang digelar LPP PCNU Lamongan pada 8 Maret 2026 lalu.
Acara yang dikemas dalam format ngaji bareng — belajar bersama lintas lembaga — ini berlangsung di sore hari bulan Ramadan, dihadiri pengurus dari berbagai lembaga dan banom di lingkungan PCNU Lamongan. Meski suasana santai, materi yang disajikan ternyata jauh dari ringan: membentang dari prasasti abad ke-10 hingga kritik terhadap revolusi hijau Orde Baru.
Pertanian adalah Produk Kebudayaan Tertua
Narasumber diskusi ini — seorang pegiat sejarah dan arkeologi lokal Lamongan — membuka pemaparan dengan sebuah tesis yang terdengar sederhana namun menggugah: pertanian bukan hanya kegiatan ekonomi, ia adalah produk kebudayaan manusia yang paling tua.
“Pernyataan bahwa kebudayaan tidak berkorelasi dengan pertanian itu melupakan sejarah manusia itu sendiri. Manusia bertani itu produk kebudayaan.”
Ia mengingatkan bahwa bahkan sebelum manusia mengenal tulisan — di masa prasejarah — mereka sudah bertani. Di Jawa khususnya, tradisi bercocok tanam telah berjalan sejak masa perundagian, sekitar 200 hingga 2.000 tahun sebelum Masehi. Leluhur kita kala itu sudah mengatur sirkulasi air di sawah, membangun pematang, dan merancang sistem irigasi — jauh sebelum kolonialisme memperkenalkan konsep-konsep serupa.
Bukti paling sederhana yang sering diabaikan adalah pematang sawah. Tidak semua wilayah pertanian di dunia mengenal pematang. Keberadaannya di Jawa menunjukkan bahwa pertanian di sini bukan perladangan berpindah-pindah, melainkan sistem pertanian menetap yang terencana dan berkelanjutan sejak ribuan tahun lalu.
Lamongan dalam Prasasti: Irigasi, Tambak, dan Rempah
Salah satu bagian paling menarik dari diskusi ini adalah ketika narasumber membawa data konkret dari prasasti-prasasti kuno yang ditemukan di Lamongan dan sekitarnya. Bukan sekadar cerita, melainkan sumber primer yang valid dan sezaman.
Prasasti Cane di Desa Candisari — tertua yang ditemukan di Lamongan hingga hari ini — berasal dari masa Airlangga di abad ke-11 (tahun 1021 M). Di dalamnya sudah disebut istilah dawuhan (bendungan), tambak, hingga kata tani itu sendiri. Bahkan tercatat pula aktivitas perdagangan beras (adagang beras) yang menunjukkan komoditas ini sudah menjadi tulang punggung ekonomi Lamongan sejak hampir seribu tahun lalu.
Dari prasasti Biluluk, muncul nama-nama komoditas yang mengejutkan: kapulaga, sahang (merica), kapas, hingga cabe — bukan lombok, melainkan cabe asli tanaman endemik Nusantara. Narasumber menegaskan bahwa keberadaan cabe sebagai komoditas perdagangan kuno membuktikan ia adalah tanaman asli yang tidak memerlukan perlakuan khusus seperti lombok yang baru diintroduksi kemudian.
“Komoditi-komoditi yang pernah disebut dalam prasasti kini tidak lagi kita tanam. Merica tidak lagi ditanam, kapulaga juga tidak. Saya pikir kebijakan revolusi hijau pada masa Orde Baru cukup besar pengaruhnya terhadap hilangnya keanekaragaman ini.”
Temuan ini menjadi kritik implisit yang tajam: kita justru mengalami kemunduran komoditas dibanding masa lalu. Leluhur kita mengelola keanekaragaman hayati yang jauh lebih kaya dari yang kita kenal hari ini.
Misteri Prasasti Watu Watukura dan Wilayah Solokuro
Narasumber juga memperkenalkan riset yang sedang ia kerjakan — sebuah perdebatan akademis yang melibatkan banyak arkeolog dan sejarawan nasional. Prasasti Watu Watukura, yang berasal dari masa Dyah Balitung di abad ke-10, selama ini ditempatkan sebagai peninggalan Jawa Tengah. Namun narasumber berargumen kuat bahwa prasasti ini seharusnya dikaitkan dengan wilayah Lamongan, khususnya Solokuro.
Dasar argumennya: di dalam prasasti tersebut disebutkan sejumlah nama desa sebagai batas wilayah, dua di antaranya sangat kuat menunjuk ke Lamongan — Payaman dan mata panas yang ia yakini sebagai Tepanas sekarang. Jika dugaan ini terbukti, maka di prasasti yang sama akan ditemukan daftar lengkap komoditas ikan laut dan ikan tawar beserta ragam sayuran yang dikonsumsi masyarakat pesisir pantura Lamongan pada abad ke-10.
“Kita akan tahu cara menangkap ikan, jenis jaringnya, teknologi yang digunakan warga pantura Lamongan di abad ke-10,” ujarnya dengan antusias. Ini bukan sekadar urusan sejarah — ini adalah kekayaan teknologi perikanan leluhur yang menanti untuk digali.
Bengawan Jero: Dari Pusat Perdagangan ke Kawasan Banjir
Bagian penutup pemaparan menyentuh persoalan yang sangat relevan dengan kondisi Lamongan hari ini: Bengawan Jero. Kawasan yang kini identik dengan masalah banjir tahunan ternyata menyimpan jejak sejarah yang sama sekali berbeda.
Temuan keramik dari Dinasti Song abad ke-11 di sekitar kawasan ini — sezaman dengan masa Airlangga dan Fatimah binti Maimun — membuktikan bahwa Bengawan Jero pernah menjadi zona perdagangan kuno yang hidup dan ramai. Kawasan ini, yang merupakan delta kuno Bengawan Solo, dulunya justru lebih banyak dialiri sungai dan rawa, namun masyarakatnya mampu eksis, bertahan, bahkan meninggalkan jejak peradaban.
“Strategi ekologi mereka itulah yang wajib kita tiru. Di tengah situasi yang dulu mungkin sungainya lebih besar, rawa-rawanya lebih banyak, mereka bisa meninggalkan jejak peradaban yang luar biasa hingga hari ini.”
Pertanyaannya menjadi semakin relevan: mengapa nenek moyang bisa mengelola kawasan ini dengan baik, sementara kita dengan segala kemajuan teknologi justru kewalahan menghadapi banjir? Jawabannya, menurut narasumber, tersimpan dalam kearifan lokal dan strategi ekologis yang belum kita pelajari secara serius.
Pranata Mangsa dan Spiritualitas Bertani
Diskusi juga menyentuh dimensi spiritual dari pertanian Jawa. Pranata mangsa — sistem kalender pertanian Jawa — disinggung sebagai warisan kecerdasan ekologis yang kerap disalahpahami. Sistem ini bukan sekadar penanggalan biasa; ia adalah kalender yang sangat geografis, memperhitungkan posisi lintang, garis bujur, curah hujan, dan pergerakan musim secara spesifik untuk wilayah Jawa.
Berbeda dengan kalender Hijriah atau Masehi yang bersifat universal, pranata mangsa tidak bisa sekadar “diekspor” ke wilayah lain. Ia lahir dari pengamatan mendalam leluhur terhadap alam Jawa, dan karena itu sangat aplikatif untuk pertanian lokal. Narasumber bahkan menyarankan agar LPP NU mempertimbangkan pembuatan aplikasi berbasis pranata mangsa sebagai panduan pertanian modern yang berakar tradisi.
Di luar kalender, proses bertani itu sendiri selalu dibalut dimensi ritual: dari wiwit saat memulai tanam, hingga sandur saat panen besar. Semua ini, tegasnya, bukan takhayul — melainkan ekspresi kesadaran spiritual masyarakat petani yang memahami pertanian sebagai perjalanan kosmik, bukan sekadar transaksi ekonomi.
PR Besar LPP NU Lamongan
Dari keseluruhan diskusi, narasumber merumuskan setidaknya dua agenda besar yang seharusnya menjadi prioritas LPP PCNU Lamongan ke depan.
Pertama, eksplorasi dan revitalisasi tanaman endemik Lamongan. Kapulaga, cabe lokal, sahang, durian, nangka, dan berbagai komoditas yang pernah tercatat dalam prasasti perlu diidentifikasi ulang, dibudidayakan kembali, dan diberi branding yang kuat. Tanaman endemik tidak hanya lebih adaptif terhadap kondisi lokal, tetapi juga berpotensi bernilai ekonomi tinggi — kapulaga saja kini dihargai sekitar Rp50.000 per kilogram.
Kedua, membangun narasi pertanian yang menarik bagi generasi muda. Ketua LPP PCNU Lamongan, Pak Rokib, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjangkau petani-petani milenial. Tanpa regenerasi, sektor pertanian akan terus kehilangan tenaga muda yang justru bisa membawa inovasi. Narasi historis yang kaya ini — bahwa bertani adalah warisan peradaban tertinggi Nusantara — bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi Generasi Z untuk memilih jalan sebagai petani.
Refleksi: Membaca Ayat-ayat Kauniyah di Sawah
Dalam pengantarnya, Pak Rokib menyampaikan sebuah visi yang puitis sekaligus substantif: pertanian sejati bukan hanya soal menebar benih dan menunggu panen, melainkan tentang membaca ayat-ayat kauniyah — tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam. Berbicara kepada rumput yang bergoyang, kepada akar, batang, ranting, bunga, dan buah — semuanya saling terkait dalam satu sistem yang Allah ciptakan dengan hikmah yang dalam.
Pandangan ini sejalan dengan tradisi keilmuan NU yang selalu berupaya mempertemukan dimensi spiritual dan realitas empiris. Pertanian bukan hanya lapangan kerja; ia adalah medan tafakur, medan ibadah, dan medan peradaban. Diskusi sore Ramadan di PCNU Lamongan itu, singkat namun padat, telah membuka cakrawala baru tentang betapa kayanya warisan agraris yang kita miliki — dan betapa seriusnya tanggung jawab kita untuk tidak melupakannya.
Saksikan rekaman lengkap diskusi ini di YouTube berikut:
▶ Tonton di YouTube: Diskusi LPP NU Lamongan — Pertanian dan Kebudayaan