Di tengah derasnya arus informasi digital dan melemahnya budaya membaca, Lajnah Ta’lif wa Nashr (LTN) PCNU Lamongan menggelar diskusi buka bersama pada 9 Maret 2026 — sebuah forum yang sederhana dalam format, namun kaya dalam gagasan. Diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian acara yang diikuti 18 lembaga PCNU Lamongan secara bergantian, sebagai upaya menghidupkan ruang berpikir di tengah kesibukan Ramadhan.
Hadir dalam forum tersebut pengurus LTN PCNU Lamongan, koordinator bidang (korbid), serta perwakilan dari LP Ma’arif NU Lamongan. Meski narasumber utama berhalangan hadir, diskusi justru mengalir produktif — menghasilkan sejumlah pokok pikiran yang layak menjadi peta jalan LTN ke depan.
LTN: Lebih dari Sekadar Menerbitkan Buku
LTN — Lajnah Ta’lif wan Nashr — secara harfiah berarti lembaga yang menangani penulisan dan penerbitan. Dalam tubuh organisasi NU, LTN berperan sebagai institusi spesialis yang menjamin kualitas intelektual dari produk-produk literasi NU: mulai dari buku, bulletin, hingga — di era kini — konten digital.
Namun kenyataan di lapangan menghadirkan tantangan berlapis. Korbid yang membidangi LTN, dalam forum diskusi ini, mengungkap bahwa komunikasi antara LTN dan lembaga-lembaga lain di tubuh PCNU belum berjalan sistematis. Bahkan pertemuan untuk sekadar memetakan potensi dan kebutuhan pun baru terlaksana di momen ini.
“Sebelum kita melakukan sinergitas, kita itu harus punya apa yang bisa kita lakukan sendiri dulu. LTN itu bisanya apa dulu tanpa bantuan orang lain. Nah, itu baru kita gagas. Setelah kita gagas, baru kita kerja samakan.”
Penegasan ini penting: sebelum LTN bisa menjadi jembatan antar-lembaga, ia harus terlebih dahulu menemukan identitas dan kapasitas dasarnya sendiri. Apa yang benar-benar bisa dilakukan oleh LTN dengan sumber daya yang ada sekarang?
Generasi Alfa dan Krisis Literasi Keagamaan
Salah satu pokok pikiran yang paling tajam dalam diskusi ini menyentuh realitas yang banyak dirasakan tetapi jarang diakui terang-terangan: generasi muda NU — bahkan anak-anak dari tokoh NU sendiri — kian banyak yang tidak mengenal praktik keagamaan aswaja secara utuh.
“Banyak anak-anaknya orang NU, tokohnya NU saja — shalat sudah tidak wiridan itu sudah banyak. Ini kan ada semacam ruang yang sebetulnya perlu didekati.”
Fenomena ini tidak datang dari kevakuman. Generasi Alfa — mereka yang lahir setelah 2010 dan kini mengisi bangku SMP hingga perguruan tinggi — mendapatkan referensi keagamaan utamanya dari konten video di internet. Dan konten yang paling masif, paling terorganisir, serta paling mudah ditemukan tidak selalu berasal dari lingkungan aswaja.
Di sinilah LTN dipandang memiliki peran strategis: menciptakan konten literasi yang berbicara dalam “bahasa” generasi ini. Bukan bahasa kitab yang berat, melainkan bahasa yang menyapa, membimbing, dan memberi arah — tanpa mengorbankan kedalaman.
Buku Saku hingga Tutorial Video: Ragam Usulan Konkret
Diskusi ini tidak berhenti pada diagnosis. Beberapa gagasan konkret mencuat, mewakili berbagai tingkat urgensi dan kemudahan pelaksanaan.
1. Buku Saku Keagamaan untuk Generasi Muda
Salah satu usulan yang mendapat respons hangat adalah penerbitan buku saku yang memuat panduan praktis ibadah sehari-hari — mulai dari tata cara wudhu hingga shalat — dalam bahasa yang ringan, dekat, dan sesuai dengan daya tangkap generasi Alfa. Buku ini diharapkan bisa didistribusikan secara cuma-cuma dengan dukungan para aghniya dan sponsor.
Model pembiayaan berbasis sponsorship ini bukan tanpa preseden. Lajnah Falakiyah PCNU Lamongan telah berhasil mencetak jadwal imsakiyah dengan model serupa: beberapa logo sponsor ditampilkan di produk cetak, dan hasilnya dapat didistribusikan luas tanpa membebani kas lembaga.
2. Tutorial Video dan Konten Digital Masif
Jika buku saku menyasar pembaca, tutorial video menyasar penonton — dan saat ini, generasi muda jauh lebih banyak menonton daripada membaca. Usulan ini menekankan pentingnya konten video pendek yang membahas praktik ibadah secara visual: bagaimana wudhu yang benar, bagaimana shalat dalam kondisi sakit, dan berbagai pertanyaan praktis lain yang sesungguhnya banyak dicari.
“Tutorial-tutorial video semacam itu harus dimasifkan di kalangan anak-anak muda sekarang. Karena yang diikuti rata-rata kebanyakan tutorialnya berasal dari mereka yang pakai jubah-jubah, yang pakai jenggot-jenggot itu, sedang keyakinan dan amaliyahnya tidak jelas. Kita tidak ingin kecolongan.”
Kekhawatiran ini realistis. Tanpa kehadiran konten aswaja yang menarik dan mudah diakses, ruang informasi keagamaan generasi muda akan terus diisi oleh konten dari kelompok lain.
3. Seleksi dan Kurasi Buku Ajar di Lingkungan Ma’arif
Usulan ketiga menyentuh domain yang lebih sistemik: audit terhadap buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU, dari tingkat MI hingga SMA/MA. Pertanyaannya sederhana namun mendasar — apakah seluruh buku yang digunakan sudah sepenuhnya sejalan dengan ajaran aswaja ala Nahdlatul Ulama?
Jika belum, maka LTN memiliki mandat untuk membentuk tim penyusunan buku yang memastikan kesesuaian tersebut. Fungsi kurasi dan editorial LTN menjadi sangat relevan di sini: bukan hanya menerbitkan, tetapi juga menjaga standar keilmuan dan akidah dari seluruh materi yang beredar di ekosistem pendidikan NU.
LTN sebagai Editor, Bukan Hanya Penerbit
Salah satu reframing paling menarik dalam diskusi ini adalah pergeseran perspektif tentang fungsi LTN. Selama ini LTN kerap dipahami semata sebagai lembaga penerbit — mencetak buku dan mendistribusikannya. Namun dalam diskusi ini, muncul pemahaman yang lebih tepat: LTN seharusnya juga berfungsi sebagai editor bagi seluruh produk literasi yang lahir dari lembaga-lembaga lain di tubuh NU.
Artinya, ketika Lembaga Dakwah menyusun buku khotbah, atau Lembaga Takmir menerbitkan panduan masjid, LTN-lah yang berperan memeriksa, mengedit, dan memastikan validitas isinya sebelum diterbitkan dan disebarluaskan. Fungsi ini membutuhkan SDM dengan kompetensi menulis, mengedit, dan memahami keilmuan Islam secara memadai.
Tantangan Nyata: SDM, Koordinasi, dan Dana
Diskusi ini jujur dalam menyebut tantangan. Tiga hambatan utama teridentifikasi dengan jelas.
Pertama, SDM. Tidak semua anggota LTN memiliki latar belakang menulis atau pengalaman media. Bahkan informasi tentang jadwal kegiatan PCNU pun diakui tidak selalu sampai ke seluruh pengurus LTN. Ini menunjukkan urgensi konsolidasi internal sebelum berbicara program ke luar.
Kedua, koordinasi antar-lembaga. Situasi di mana setiap lembaga menerbitkan produk sendiri-sendiri — LF mencetak imsakiyah sendiri, Ma’arif menerbitkan buku sendiri, LDNU membuat materi sendiri — tanpa koordinasi dengan LTN — mencerminkan bahwa fungsi LTN belum dipahami secara merata di internal PCNU.
Ketiga, pendanaan. Namun pada poin ini, diskusi justru memberi perspektif optimis: model sponsorship yang telah terbukti di Lajnah Falakiyah bisa diadopsi. Selain itu, selama program LTN memiliki nilai yang terukur dan dampak yang nyata, para investor dan aghniya NU diyakini tidak akan sulit untuk diajak bekerja sama.
Pelatihan Jurnalistik: Investasi untuk Ekosistem Literasi
Di antara seluruh gagasan yang bergulir, pelatihan jurnalistik untuk pelajar mendapat sambutan yang relatif paling bulat. Alasannya logis: masalah literasi tidak cukup diatasi dengan menerbitkan buku. Yang lebih mendasar adalah menumbuhkan ekosistem — generasi yang terbiasa membaca dan menulis, yang memiliki kemampuan mengolah informasi secara kritis.
LTN berencana mengadakan pelatihan jurnalistik yang menyasar siswa-siswi di sekolah-sekolah, dengan pendampingan berkelanjutan hingga peserta mampu menerbitkan buletin atau publikasi sederhana di sekolah masing-masing. Kolaborasi dengan LP Ma’arif NU dipandang sebagai pintu masuk yang paling natural untuk program ini.
Sinergi yang Menunggu untuk Dirawat
Forum diskusi ini menegaskan satu hal dengan gamblang: potensi LTN PCNU Lamongan sesungguhnya besar. Lamongan memiliki banyak tenaga ahli, penulis, dan pegiat media yang tersebar di berbagai lembaga. Yang dibutuhkan bukan sekadar program baru, melainkan koordinasi yang hidup dan rasa saling memiliki antar-lembaga.
Penutup diskusi yang penuh harapan itu mengusulkan langkah sederhana namun bermakna sebagai permulaan: menerbitkan lembar Jumat — satu lembar ringkas berisi renungan atau panduan keagamaan — yang disebarkan ke seluruh masjid di Lamongan setiap pekan. Langkah kecil, tetapi konsisten. Dan konsistensi, dalam dunia literasi, adalah segalanya.
“Jangan khawatir tentang dana. Yang penting kita mulai, insyaallah banyak jalan.”
Setelah Syawal, LTN PCNU Lamongan dijadwalkan kembali berkumpul bersama korbid untuk merumuskan langkah-langkah prioritas secara lebih terstruktur. Semoga diskusi yang kaya gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana — melainkan menjadi titik berangkat nyata bagi kebangkitan literasi Islam aswaja di Lamongan.
Rekaman lengkap diskusi ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube PCNU Lamongan: https://www.youtube.com/watch?v=qsEcwUGjnnQ