📅 Kamis, 2 Juli 2026  |  17 Muharram 1448 H

Silaturahim Sejati di Tengah Era Silat HP: Refleksi Buka Bersama PC Muslimat NU Lamongan

Di tengah gempuran istilah “silaturahmi digital” yang kian akrab di telinga masyarakat modern, ada satu momen sederhana namun sarat makna yang berlangsung di kediaman Ketua PC Muslimat NU Lamongan, Dr. Hj. Kartika Hidayati, M.M., M.HP. Selasa, 10 Maret 2026 lalu. Acara buka bersama sekaligus santunan anak yatim yang digelar PC Muslimat NU Lamongan itu bukan sekadar seremoni tahunan menjelang penghujung Ramadan, melainkan potret nyata bagaimana nilai-nilai keislaman diwariskan dalam sebuah keluarga sekaligus disebarluaskan ke tengah jamaah Nahdliyyin.

Acara yang dihadiri jajaran Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah MWC NU se-Kabupaten Lamongan, pengurus PAC Muslimat NU se-Kabupaten Lamongan, pimpinan ranting Muslimat NU, hingga para Ketua IGTKM PAUD Muslimat NU se-Kabupaten Lamongan ini diawali dengan lantunan shalawat, dilanjutkan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim, sambutan tuan rumah, dan ditutup dengan mau’izhah hasanah. Video dokumentasi lengkapnya dapat disaksikan melalui tautan YouTube berikut ini.

Tradisi Keluarga yang Diwariskan, Bukan Sekadar Diajarkan

Salah satu bagian paling menyentuh dari rangkaian acara ini adalah sambutan yang disampaikan oleh perwakilan keluarga tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan santunan anak yatim ini telah menjadi agenda istikamah keluarga dari tahun ke tahun, dan yang lebih penting lagi, telah menjelma menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anaknya sendiri.

Ia menceritakan bagaimana anak-anaknya yang kini sudah bekerja, tanpa perlu diperintah atau diceramahi panjang lebar, dengan sendirinya menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk anak yatim dan para janda. Pola pendidikan semacam ini, yang lebih mengandalkan keteladanan (uswah) ketimbang instruksi verbal, sesungguhnya adalah metode dakwah klasik ala pesantren yang telah teruji lintas generasi: nilai tidak cukup diucapkan, ia harus dipertontonkan dan dihidupi.

“Sebagian berapapun yang kamu dapatkan dari pekerjaanmu itu ada hak-hak, termasuk hak anak yatim.”

— Disampaikan dalam sambutan tuan rumah, mengutip pesan yang juga pernah diwariskan oleh orang tuanya terdahulu.

Ramadan, dalam sambutan tersebut, juga dianalogikan sebagai “mesin cuci” bagi hati, pikiran, dan lisan. Analogi sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan mendalam: bahwa ibadah puasa bukan tujuan akhir, melainkan proses pembersihan menuju kualitas diri yang lebih baik pasca-Ramadan, yang kemudian dibuktikan lewat kepedulian sosial seperti santunan anak yatim ini.

Silaturahim Sejati di Tengah Godaan “Silat HP”

Puncak nilai reflektif dari acara ini hadir lewat mau’idhah hasanah yang disampaikan oleh Kiai Fatah Amin. Dengan gaya bahasa Jawa yang khas dan mengena, beliau menyoroti sebuah fenomena zaman yang kian akrab dengan kehidupan modern: bergesernya makna silaturahim menjadi sekadar “silat HP”.

Video call, chat, dan berbagai bentuk komunikasi jarak jauh lainnya, menurut beliau, belum bisa disebut silaturahim dalam pengertian yang sesungguhnya. Keistimewaan silaturahim yang sejati justru terletak pada momen muwajahah, pertemuan tatap muka langsung, sebagaimana yang tengah berlangsung pada acara buka bersama tersebut.

Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim.

— Diriwayatkan dan disampaikan kembali oleh Kiai Fatah Amin dalam mau’idhah hasanahnya)

Pesan ini terasa relevan bagi organisasi keagamaan seperti Muslimat NU, yang keberlangsungan jaringannya dari tingkat kabupaten hingga ranting sangat bergantung pada kekuatan silaturahim fisik, bukan sekadar konektivitas digital. Forum-forum semacam buka bersama inilah yang menjadi perekat organisasi sekaligus wahana ngalap barokah bagi seluruh yang hadir.

Renungan tentang Kefanaan: Pangkat dan Jabatan Hanyalah Titipan

Bagian lain dari mau’izhah hasanah yang tak kalah dalam adalah renungan tentang kefanaan hidup di dunia. Kiai Fatah Amin mengajak jamaah untuk menghitung: usia hidup di dunia hanyalah sekejap dibanding kehidupan akhirat yang kekal. Pangkat, jabatan, bahkan harta yang dimiliki manusia, menurut beliau, pada hakikatnya adalah milik Allah semata yang dititipkan untuk sementara.

Untuk memperjelas pesan ini, beliau menggunakan analogi seorang tukang parkir yang menjaga puluhan kendaraan setiap hari, namun tak pernah merasa memiliki satu pun dari kendaraan tersebut. Analogi sederhana namun tajam ini mengingatkan bahwa sikap rumongso duwe atau merasa memiliki secara berlebihan terhadap dunia adalah sumber dari banyak kegelisahan batin, sementara ketenangan sejati justru lahir dari kesadaran bahwa semua yang digenggam manusia hanyalah titipan.

Menakar Makna: Filantropi sebagai Cermin Keberislaman

Jika dirangkai, ketiga elemen dalam acara ini, yaitu santunan anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial, mau’izhah tentang silaturahim sejati, dan renungan tentang kefanaan dunia, sesungguhnya membentuk satu kesatuan pesan utuh khas dakwah Ahlussunnah wal Jamaah ala NU: bahwa keberislaman seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa luas harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar ia mampu berbagi dan menyambung tali persaudaraan selagi masih diberi kesempatan hidup.

Acara sederhana yang digelar di kediaman Ketua PC Muslimat NU Lamongan ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dalam organisasi keagamaan tidak berhenti pada tataran struktural semata, tetapi juga harus terejawantah dalam keteladanan personal dan keluarga, sebagaimana yang tergambar jelas dalam kegiatan buka bersama dan santunan yatim tersebut.

Dokumentasi lengkap acara buka bersama dan santunan anak yatim PC Muslimat NU Lamongan ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=pq6yJlRxuXc.

Tonton Video Selengkapnya di YouTube

Bagikan: