Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan ulasan mendalam atas diskusi bersama Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Lamongan yang diselenggarakan pada 5 Maret 2026. Rekaman lengkap dapat disaksikan melalui tautan YouTube di bagian akhir artikel.
Masjid bukan sekadar tempat sujud. Ia adalah pusat peradaban, ruang tumbuhnya komunitas, dan— dalam konteks gerakan Nahdlatul Ulama — wahana penggerak amal makruf nahi mungkar yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan umat. Keyakinan inilah yang menjadi benang merah diskusi perdana Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Lamongan pada awal Maret 2026, sebuah perbincangan yang sederhana dalam format namun kaya dalam substansi.
Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Ketua PCNU Lamongan, Ustadz Nur Salim, membawa perspektif yang tidak biasa: pengalaman langsung sebagai ketua remaja masjid — sebuah masa yang, dalam kata-katanya sendiri, penuh dengan “ide yang berbinar-binar.” Dari sudut pandang itulah ia memetakan tantangan, peluang, dan visi bagi takmir masjid di Lamongan masa kini.
Masjid Gus Dur: Antara Fisik dan Fungsi
Satu nama mendominasi diskusi: Masjid Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), proyek masjid ikonik PCNU Lamongan yang kini tengah dalam proses pembangunan. Bagi LTM, masjid ini bukan sekadar bangunan megah — ia adalah lokomotif perubahan paradigma tentang apa yang bisa dilakukan sebuah masjid.
Ustadz Nur Salim menegaskan bahwa prioritas pertama yang tidak bisa ditawar adalah penuntasan fisik bangunan. Alasannya strategis: Masjid Gus Dur berada di jalur jalan nasional, sementara jalan lingkar utara yang tengah dibangun kelak akan melewati kawasan yang saat ini menjadi lokasi fasilitas milik Muhammadiyah. Dengan kata lain, posisi geografis Masjid Gus Dur menjadikannya calon landmark yang sangat strategis dalam peta kota Lamongan satu dekade ke depan.
“Aku ngomong 10 tahun ke depan — Masjid Gus Dur punya potensi menjadi ikon nasional. Makanya ini yang harus dikerjakan yang pertama.”
— Ustadz Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lamongan
Namun visi jangka panjang tidak berhenti pada fisik. Narasumber juga melontarkan gagasan tentang masjid digital, masjid yang ngopeni umat — merawat jamaah secara menyeluruh — dan masjid berbasis konsep jogo karya, sebuah pendekatan pemberdayaan ekonomi warga yang menjadi salah satu ikon gerakan NU.
Transparansi sebagai Fondasi Kepercayaan
Di balik ambisi besar itu, Ketua Takmir Masjid Gus Dur menyampaikan satu komitmen yang menjadi pijakan awal kerja kepengurusan: transparansi pengelolaan donasi. Pengalaman di masa lalu — yang tidak dirinci secara eksplisit dalam diskusi — telah mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam pencatatan dan pelaporan keuangan.
Langkah konkret yang dirancang adalah pembaruan informasi donatur — baik donatur rutin maupun insidental — melalui kanal-kanal media yang dimiliki, agar kepercayaan (trust) masyarakat kembali pulih dan terjaga. Sebuah langkah yang tampak sederhana, namun memiliki dampak yang jauh: masjid yang transparan adalah masjid yang akan terus didukung publik.
Tiga Inovasi yang Belum Ada, Tapi Seharusnya Ada
Bagian paling substantif dari diskusi adalah ketika Ustadz Nur Salim menyebut tiga hal yang menurutnya hampir tidak ditemukan di masjid-masjid Lamongan — bahkan di masjid-masjid yang pernah ia kunjungi di Tuban — namun seharusnya sudah menjadi standar.
1. Muadzin yang Dibina, Bukan Sekadar Dilombakan
Fenomena yang masih umum terjadi adalah kualitas azan yang jauh dari standar yang memadai. Bukan soal kemerduan semata, melainkan soal martabat dan tanggung jawab: seorang muadzin, dalam perspektif yang disampaikan, adalah wakil Allah di bumi yang bertugas memanggil manusia untuk menghadap Sang Pencipta. Tugas semulia itu, ironisnya, justru sering dipandang sebelah mata.
“Muadzin iku wakile Gusti Allah — yang ditunjuk oleh Allah untuk memanggil orang. Amalan yang luar biasa. Tapi sering dipandang remeh.”
— Ustadz Nur Salim
Solusinya bukan lomba azan — yang sudah banyak ada — melainkan program pembinaan muadzin yang berkelanjutan, membentuk muadzin tetap yang istikamah dan memahami keagungan tugasnya. Bahkan muncul usulan dari peserta diskusi agar Masjid Gus Dur memberikan semacam penghargaan simbolis — misalnya emas seberat beberapa gram — sebagai bentuk apresiasi dan ikon keistimewaan masjid.
2. Masjid Ramah Anak
Ustadz Nur Salim mengakui bahwa ini adalah isu yang paling ia rasakan. Hampir tidak ada masjid yang benar-benar menyediakan fasilitas ramah anak — bukan dalam arti melarang anak masuk, melainkan justru menyediakan ruang khusus di dalam masjid yang memang didesain untuk anak-anak. Dengan demikian, kehadiran anak tidak lagi menjadi “gangguan” yang membuat orang lain tidak khusyuk, melainkan bagian alami dari ekosistem masjid.
Gagasan ini juga membuka peluang sinkronisasi dengan program pendidikan. Peserta diskusi menyarankan agar Masjid Gus Dur — yang bercita-cita menjadi milik seluruh warga Lamongan, bukan hanya mereka yang tinggal di sekitarnya — mulai disosialisasikan ke sekolah-sekolah dan lembaga Ma’arif sejak dini. Anak-anak Lamongan perlu ditanamkan kebanggaan bahwa mereka memiliki masjid ikonik bernama Masjid Gus Dur.
3. Pengurus yang Hadir, Bukan Sekadar Rapat
Inilah mungkin gagasan yang paling tajam dan paling relevan untuk seluruh lembaga NU, bukan hanya LTM: kunci perubahan bukanlah kecemerlangan individu, melainkan intensitas kebersamaan.
“Saya tidak percaya ada pengurus yang punya potensi besar, tapi tidak pernah kumpul. Tapi kalau yang tiap hari berkumpul, walaupun SDM-nya biasa saja, saya yakin bisa menjadi besar.”
— Ustadz Nur Salim
Budaya komunal — berkumpul, bermusyawarah, hadir setiap hari — adalah DNA warga NU. Ketika budaya itu hilang, bahkan lima orang pun tidak akan mampu menggerakkan apapun. Sebaliknya, lima orang yang konsisten berkumpul setiap hari akan menghasilkan perubahan yang jauh melampaui ekspektasi. Kritik ini berlaku merata: dari pengurus cabang yang hanya bertemu saat rapat formal, hingga pengurus lembaga yang hanya aktif saat ada kegiatan.
Program Ikonik: Identitas yang Bisa Diingat
Diskusi juga menyoroti pentingnya setiap periode kepengurusan LTM memiliki program yang ikonik — sesuatu yang konkret, terukur, dan diingat publik. Ketua LTM mencontohkan bahwa kepengurusan sebelumnya dikenal dengan program sertifikasi masjid dari Kemenag. Kepengurusan yang baru harus menemukan ikonnya sendiri.
Salah satu agenda yang disebut secara eksplisit adalah identifikasi dan klasifikasi papan nama masjid NU di seluruh Lamongan. Masjid-masjid NU diklasifikasikan dalam tiga kategori: pertama, yang secara tegas menggunakan nama Nahdlatul Ulama dalam papan namanya; kedua, yang berafiliasi NU namun tidak mencantumkan nama NU; dan ketiga, yang ubudiyahnya NU namun secara kelembagaan belum terdaftar. Ketiga kategori ini perlu dipetakan dan “disantuni” sesuai kondisinya masing-masing — baik melalui penomoran resmi, pemberian piagam, maupun minimal pemasangan lambang NU.
Masjid sebagai Ekspresi Keislaman yang Utuh
Pada akhirnya, diskusi ini menempatkan masjid bukan semata sebagai infrastruktur fisik atau simbol identitas keagamaan, melainkan sebagai ekspresi keislaman yang utuh. Islam yang mengurus kualitas azan karena menghargai panggilan ilahi. Islam yang menyambut anak-anak karena masa depan umat ada di tangan mereka. Islam yang transparan dalam keuangan karena kepercayaan adalah amanah. Islam yang hadir setiap hari karena perubahan lahir dari kebersamaan yang konsisten.
Dalam konteks tujuh prioritas program NU yang salah satunya menempatkan Masjid Gus Dur sebagai proyek unggulan, LTM PCNU Lamongan kini berdiri di persimpangan yang menentukan: apakah masjid-masjid NU di Lamongan akan menjadi sekadar bangunan yang indah, ataukah menjadi pusat kehidupan umat yang sesungguhnya?
Jawabannya, seperti yang tersirat dalam diskusi ini, ada di tangan para takmir — mereka yang memilih untuk hadir, bukan sekadar tercatat sebagai pengurus.
📺 Saksikan Rekaman Lengkap:
Diskusi bersama LTM PCNU Lamongan ini dapat disaksikan secara lengkap melalui kanal YouTube PCNU Lamongan:
https://www.youtube.com/watch?v=Ob9MATUjl4M