Keluarga & Masyarakat
Sebuah forum kecil di Lamongan menyimpan agenda besar: menyelamatkan keluarga-keluarga NU dari badai perceraian, kekerasan, dan krisis moral era digital. Bagaimana LKK PCNU Lamongan merespons?
π 27 Februari 2026 Β |Β π· PCNU Lamongan Β |Β β Redaksi nulamongan.or.id
Di tengah kesibukan bulan suci Ramadan 1447 H, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lamongan menggelar forum diskusi bertema “Posko Pengaduan Keluarga”. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin. Di balik forum sederhana itu, tersimpan kegelisahan mendalam atas wajah keluarga Indonesia hari ini β dan sebuah tekad untuk tidak tinggal diam.
βΆ Saksikan Rekaman Diskusi di YouTube
Keluarga: Pondasi yang Sedang Retak
Forum dibuka oleh KH. Samsuri selaku Koordinator Bidang LKKNU dengan sebuah tesis yang menohok: kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas keluarganya. Pernyataan ini bukan klise β ia menjadi premis seluruh program LKK PCNU Lamongan.
“Bangsa kita maju tidak, itu salah satunya ditentukan oleh kualitas keluarga yang ada di bangsa Indonesia ini.”
β KH. Samsuri, Koordinator Bidang LKKNU PCNU Lamongan
Data yang disampaikan dalam forum ini menghadirkan paradoks yang mengusik. Di satu sisi, laporan resmi dari Pengadilan Agama menunjukkan angka perceraian yang cenderung menurun. Namun di sisi lain, fenomena di lapangan justru sebaliknya β persoalan keluarga terasa semakin meluas dan menggurita. Bullying, KDRT, perselingkuhan, bahkan kasus anak membunuh orang tua; semuanya seolah tumbuh subur di era media sosial yang serba terbuka.
KH. Samsuri mengidentifikasi sejumlah akar masalah yang kerap menjadi biang keladi keretakan rumah tangga: tekanan ekonomi, pertengkaran yang tidak terkelola, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga jerat judi dan minuman keras. Faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri β mereka saling jalin dalam ekosistem sosial yang kian kompleks.
Posko Pengaduan: Dari Reaktif Menuju Preventif
Salah satu gagasan sentral yang diusung LKK PCNU Lamongan adalah pembentukan Posko Pengaduan Keluarga β sebuah kanal layanan yang memungkinkan warga NU melaporkan permasalahan rumah tangga mereka secara aman, rahasia, dan terjangkau. Namun yang lebih menarik adalah tekad untuk tidak berhenti pada fungsi reaktif semata.
“Tidak hanya tindakan terhadap permasalahan melalui konsultasi posko, tetapi juga upaya preventif atau pencegahan agar rumah tangga itu tidak bermasalah.”
β KH. Samsuri
Pendekatan preventif ini yang membedakan gerakan LKK dari sekadar “pemadam kebakaran”. Pendidikan pra-nikah, bimbingan remaja usia sekolah, bimbingan remaja usia nikah β semuanya dirancang agar generasi muda memasuki gerbang pernikahan dalam kondisi benar-benar siap, bukan sekadar siap secara administratif.
Kolaborasi Pemerintah dan NU: Dua Pilar yang Saling Menopang
Diskusi semakin kaya ketika Bapak Budi Wiknyo, Wakil Ketua LKK PCNU Lamongan yang juga berdinas di Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Kabupaten Lamongan, memaparkan ekosistem layanan yang kini tersedia bagi masyarakat.
Titik Layanan Pengaduan Keluarga di Lamongan
- UPTD PPA (Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak) β Jl. Veteran, Lamongan. Beroperasi sejak Januari 2026. Khusus kasus kekerasan. Pengaduan online (WA) maupun langsung. Kerahasiaan pelapor terjamin.
- Puspaga La Smart (Pusat Pembelajaran Keluarga Lamongan Smart) β Jl. Veteran No. 37. Menangani persoalan non-kekerasan: sengketa hak asuh, pendampingan psikologis, dan kasus bullying.
- Klinik Keluarga LKK PCNU Lamongan β WA 085646199695, 24 jam.
Budi Wiknyo menegaskan bahwa kasus-kasus yang tertangani sesungguhnya hanya sebagian kecil dari gunung es. Kasus yang dilaporkan adalah yang dianggap sudah parah. Yang semi-parah, yang belum meledak, jauh lebih banyak dan luput dari radar. Inilah yang menjadi argumen terkuat mengapa sosialisasi dan edukasi preventif tidak boleh kendur.
Fatayat, Pesantren, dan Kekuatan Jaringan NU
Salah satu kekuatan yang diakui seluruh peserta diskusi adalah jaringan NU yang luar biasa. Fatayat NU Lamongan disebut berulang kali sebagai mitra strategis yang aktif β bukan pasif β dalam gerakan pencegahan perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender. Program keliling ke sekolah-sekolah dan pondok pesantren di seluruh Lamongan, mencakup 27 korwil, telah berjalan secara mandiri tanpa bergantung pada dana pemerintah.
Sebuah detail yang patut dicatat: peserta program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di satu pondok pesantren bisa mencapai 200 orang β dan seluruhnya dibiayai secara swadaya oleh NU. Fakta ini mencerminkan komitmen yang bukan sekadar wacana.
“NU kita bisa seperti itu.”
β Peserta diskusi, merespons kemandirian pembiayaan program LKK
Enam Dimensi Program LKK PCNU Lamongan
LKK PCNU Lamongan tidak mendefinisikan “kemaslahatan keluarga” secara sempit. Program-programnya mencakup enam dimensi besar yang diturunkan dari misi pusat LKK NU:
Program Unggulan
- Relasi Maslahah β membangun relasi keluarga yang makruf, pengasuhan yang baik, dan penguatan akhlak.
- Keluarga Sejahtera β keluarga yang baik dan membaikkan, termasuk kesiapan mengelola ekonomi rumah tangga.
- Keluarga Sehat β perilaku hidup sehat, kesehatan reproduksi, dan pencegahan perkawinan anak.
- Keluarga Terdidik β mendorong seluruh anggota keluarga NU minimal berpendidikan setingkat SLTA/MA.
- Keluarga Cinta Lingkungan β pengolahan sampah, sadar energi, dan kesiapsiagaan bencana.
- Platform Digital β kehadiran di media sosial sebagai kanal edukasi dan layanan keluarga.
Refleksi: Pekerjaan Rumah yang Masih Panjang
Satu suara kritis yang muncul dalam forum ini patut menjadi bahan renungan. Seorang peserta mengingatkan bahwa LKK adalah lembaga dengan beban berat yang seharusnya diisi oleh mereka yang benar-benar kompeten di bidangnya. Kemaslahatan keluarga bukan urusan seremonial β ia menyentuh akar kemanusiaan.
Menyentuh kemaslahatan keluarga yang sesungguhnya tidak cukup dimulai dari momen pernikahan. Ia harus dimulai jauh lebih awal β dari masa remaja, melewati fase pra-nikah, berlanjut sepanjang kehidupan berkeluarga. Proses ini membutuhkan pendamping yang terlatih, sabar, dan punya kapasitas ilmiah maupun empati yang memadai.
LKK PCNU Lamongan sendiri mengakui bahwa perjalanan ini masih di awal. Namun justru di situlah letak harapannya β ada kesadaran, ada kerendahan hati, dan ada tekad untuk terus berbenah.
Penutup: Keluarga yang Maslahah, Bangsa yang Tangguh
Forum diskusi pada 27 Februari 2026 itu boleh jadi hanya berlangsung beberapa jam. Tapi gagasan yang bergulir di dalamnya menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah gerakan keumatan yang percaya bahwa perubahan bangsa dimulai dari pintu rumah masing-masing.
Ketika negara hadir melalui UPTD PPA dan Puspaga, ketika NU hadir melalui klinik keluarga dan Fatayat, ketika pesantren membuka pintunya untuk edukasi remaja β maka terbentuklah jaring pengaman sosial yang sesungguhnya. Bukan dari satu tangan, tapi dari banyak tangan yang saling menggenggam.
Sebagaimana diucapkan di akhir forum: “Permasalahan itu pasti timbul di mana pun kita berada. Oleh karena itu, memerlukan banyak kerja sama antar kita, terutama di warga NU ini.”
Keluarga yang maslahah bukan utopia. Ia adalah ikhtiar β yang harus diperjuangkan setiap hari, bersama-sama. [nulamongan.or.id]
Sumber: Rekaman diskusi LKK PCNU Lamongan, YouTube | Diterbitkan oleh Redaksi nulamongan.or.id