📅 Senin, 29 Juni 2026  |  14 Muharram 1448 H

Dari Data ke Peradaban: Diskusi LPT PCNU Lamongan tentang Peran Strategis Perguruan Tinggi NU

Aula kantor PCNU Lamongan pada malam 11 Maret 2026 tidak sekadar menjadi tempat berbuka puasa bersama. Forum yang diinisiasi Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) PCNU Lamongan itu menjelma menjadi ruang refleksi serius: sejauh mana perguruan tinggi NU di Lamongan telah menjalankan perannya sebagai agen transformasi — bukan hanya secara sosial dan intelektual, tetapi juga spiritual?

Pertanyaan itu bukan retorika. Ia diajukan dengan serius, didukung data, dan diperdebatkan dengan hangat oleh para akademisi, praktisi hukum, dan pengurus lembaga yang hadir malam itu.

Tiga Dimensi Transformasi yang Diemban PTNU

Narasumber utama diskusi, Muhammad Saroni, membuka paparannya dengan menegaskan tiga dimensi peran perguruan tinggi NU yang menjadi tema besar malam itu.

Pertama, transformasi sosial: PTNU diharapkan menjadi motor penggerak perubahan masyarakat menuju kondisi yang adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat — bukan menara gading yang berjarak dari realitas sosial di sekitarnya.

Kedua, transformasi intelektual: PTNU punya kewajiban mengembangkan ilmu pengetahuan secara integratif — memadukan sains modern dengan nilai-nilai keislaman ala Ahlussunnah wal Jamaah. Bukan memilih salah satu, tetapi mensinergikan keduanya.

Ketiga, transformasi spiritual: di sinilah letak kekhasan PTNU dibanding perguruan tinggi lain. Penguatan karakter, moralitas, dan nilai-nilai Islam Aswaja menjadi ruh yang mestinya mewarnai seluruh proses akademik, dari ruang kuliah hingga kegiatan kemahasiswaan.

“PTNU itu diapresiasi sebagai ulul albab — seseorang yang memiliki keluasan ilmu, kedalaman spiritual, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap masyarakat.”

Tiga peran itu, menurut Saroni, dapat diwujudkan melalui tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan jalur nyata untuk menghadirkan perubahan.

Potret Data: 70 Persen Mahasiswa, tapi Minim di Kesehatan

Salah satu bagian paling substantif dari paparan Saroni adalah sajian data kondisi PTNU di Lamongan berdasarkan sumber PD Dikti.

Saat ini terdapat enam perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU di Lamongan: UNISDA, UNISLA, Universitas Bilfath, IAI Tabah (Tarbiyatut Tolabah Kranji), Universitas Sunan Drajat, dan INAMIS. Total mahasiswanya mencapai 11.082 orang yang tersebar di 75 program studi.

Angka itu jauh melampaui tiga perguruan tinggi non-NU di Lamongan (UMLA, ITB Ahmad Dahlan, dan STAI Muhammadiyah) yang hanya menampung sekitar 4.937 mahasiswa di 32 prodi. Dengan kata lain, 70 persen mahasiswa perguruan tinggi di Lamongan belajar di lingkungan PTNU.

Namun di balik dominasi kuantitatif itu, tersimpan satu celah besar yang mencolok: bidang kesehatan.

Dari sisi program studi, PTNU unggul di hampir semua rumpun ilmu — saintek (13 prodi), sosial humaniora (7 prodi), keislaman (6 prodi, sementara non-NU nol), dan pendidikan (10 prodi). Tetapi untuk bidang kesehatan, PTNU hanya memiliki 2 prodi — kebidanan dan keperawatan di UNISLA — sementara perguruan tinggi non-NU sudah mengembangkan 10 prodi kesehatan.

“Ini yang paling jomplang,” tegas Saroni. Padahal, keberadaan rumah sakit milik NU di Lamongan sejatinya sudah menyediakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan prodi-prodi kesehatan. Peluang itu, hingga kini, belum dimanfaatkan secara maksimal.

APK 32 Persen: Potensi yang Belum Terjamah

Saroni juga menyoroti data Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Jawa Timur dari BPS tahun 2025 yang baru mencapai 32,4 persen — menempatkan Jawa Timur di posisi ke-22 nasional, jauh di bawah DI Yogyakarta yang APK-nya mencapai 74,7 persen.

Artinya, masih sekitar 68 persen lulusan SMA/SMK yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi — memilih bekerja, menikah, atau menganggur. Di Lamongan, dengan sekitar 11.000 calon lulusan SMA/SMK setiap tahunnya, angka yang “siap kuliah” diperkirakan sekitar 3.800–4.000 orang.

Di sinilah peluang strategis PTNU: membuka prodi-prodi baru yang relevan dan diminati pasar — mulai dari bidang kesehatan, teknologi siber, kecerdasan buatan (AI), hingga prodi-prodi kekinian lainnya. Saroni juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama pun kini diperkenankan membuka prodi umum, sebagaimana telah dilakukan UIN Sunan Kalijaga, UIN Sunan Ampel, dan UIN lainnya yang kini memiliki prodi teknik, kedokteran, hingga arsitektur.

Dua Wajah Negara dalam Satu Forum

Diskusi makin hidup ketika peserta dari Universitas Muhammadiyah Lamongan — yang hadir sebagai undangan — mengajukan perspektif menarik. Ia memandang kehadiran dua narasumber malam itu sebagai pertemuan dua “wajah negara” dalam satu ruangan: akademisi sebagai aparatur ideologis yang bertugas melahirkan gagasan dan membentuk cara pandang masyarakat, dan aparat penegak hukum sebagai aparatur represif yang menegakkan norma yang telah terbentuk.

Narasumber kedua, Irfan Nur Cahyo dari Kejaksaan Negeri Lamongan, hadir membawa perspektif dari sisi praktisi hukum. Meski paparannya singkat — dengan sentuhan humor khas orang baru di kota asing — ia menyentuh persoalan yang relevan: kenakalan remaja, tata kelola, dan berbagai persoalan sosial yang polanya hampir seragam di berbagai daerah.

Yang lebih substantif dari kehadirannya adalah gagasan yang muncul dalam diskusi: bahwa Kejaksaan sesungguhnya bisa menjadi mitra strategis bagi Fakultas Hukum di PTNU — baik melalui klinik hukum, kuliah tamu, maupun riset bersama. Sinergi antara aparatur ideologis dan aparatur represif, dalam bahasa yang lebih sederhana: kampus dan aparat hukum perlu duduk satu meja lebih sering.

Banjir Informasi dan Krisis Berpikir Kritis

Satu isu yang mencuat kuat dalam sesi diskusi adalah tantangan era post-truth: masyarakat banjir informasi, tetapi miskin kemampuan menverifikasi.

Seorang peserta diskusi menggambarkannya dengan analogi yang tajam: persis seperti ketika ia dan rekan-rekannya pada pertengahan 2000-an berupaya keras mengajak petani beralih dari pertanian kimiawi ke organik — siang meyakinkan petani, malam petani itu sudah “dicuci otak” kembali oleh iklan pupuk kimia di televisi. Kini, tantangannya jauh lebih masif: bukan sekadar televisi, melainkan media sosial yang menyala 24 jam.

Kampus, dalam kondisi ini, tidak bisa hanya mengajar konten. Yang lebih mendesak adalah mengajarkan cara berpikir kritis — kemampuan mahasiswa untuk tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang berseliweran di layar gawai mereka.

Saroni menimpali dengan nada serupa: “Kita sudah mendidik mahasiswa sedemikian rupa, bahkan sampai keras, ternyata luntur juga, kalah dengan pengaruh HP dan media sosial.” Tapi bukan berarti menyerah — justru itulah yang membuat peran PTNU sebagai agen transformasi menjadi semakin tidak tergantikan.

Konsolidasi Internal: Soal Kehadiran yang Berbicara

Di luar substansi akademik, forum ini juga menjadi ajang evaluasi konsolidasi internal. Nursalim, dalam sambutan pengantarnya, menyebut terus terang bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan acara dalam rangka PJNO (Pekan Jaringan NU Optimal) ini adalah mengukur seberapa solid kepengurusan lembaga — dilihat dari tingkat kehadiran.

“Lembaga itu bukan soal orang yang berkualitas atau banyak, tapi sejauh mana dia mengorganisir diri,” tegasnya. Sebuah pengingat sederhana, tapi sering terlupakan: kualitas sebuah lembaga bukan semata ditentukan oleh kapasitas individu anggotanya, melainkan oleh kemauan dan kemampuan mereka untuk terus berkumpul, berdialog, dan bergerak bersama.

Penutup: Data Bukan Hanya Angka

Forum diskusi LPT PCNU Lamongan malam itu berhasil melampaui sekadar seremonial buka puasa bersama. Ia menjadi cermin — memperlihatkan dengan jujur seberapa besar potensi PTNU di Lamongan, sekaligus seberapa lebar kesenjangan yang masih harus dijembatani.

Tujuh puluh persen pangsa mahasiswa adalah modal besar. Tetapi modal itu baru akan bermakna jika diikuti dengan keberanian membuka prodi baru yang relevan, memperkuat sinergi lintas lembaga, dan — yang paling mendasar — memastikan bahwa setiap lulusan PTNU tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan spiritual.

Itulah hakikat dari agen transformasi yang sesungguhnya.

Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan LPT PCNU Lamongan dalam forum buka puasa bersama, 11 Maret 2026. Rekaman lengkap dapat disaksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=kqrgvuxueIw

▶ Saksikan Rekaman Lengkap Diskusi di YouTube

Sumber video: Rekaman YouTube LPT PCNU Lamongan | Diskusi diselenggarakan pada Rabu, 11 Maret 2026.

Bagikan: