Refleksi Muktamar NU di Jombang ✨
Muktamar seharusnya menjadi ruang musyawarah, tempat para kader dan ulama mencari jalan terbaik untuk jam’iyyah. Namun, saat kericuhan ikut mewarnai prosesnya, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan untuk diri kita:
Apakah sekarang kita harus belajar menjadi santri lagi, agar bisa memahami makna ta’zhim kepada kiai dan menghormati perbedaan yang terjadi?
Apa justru kita harus belajar memahami satu hal yang lebih mendasar, “Bahwa menjadi pimpinan NU adalah amanah yang semestinya sangat tabu untuk diperebutkan?”
Ketika jabatan mulai dipandang sebagai tempat tujuan. Ketika kepemimpinan dianggap sebagai kekuasaan. Maka kepemimpinan akan diperebutkan.
NU punya tradisi yang sudah mengakar. Yaitu tentang ta’zhim, tawadhu’, khidmah, dan musyawarah. Kepemimpinan itu adalah amanah yang semestinya tidak diperebutkan dengan segala cara. Melainkan diterima dengan tanggung jawab ketika benar-benar dipercaya.
Dulu, ketika KH. As’ad Syamsul Arifin diminta untuk menjadi Rais Aamm, dengan tegas beliau menolak:
“Meskipun Malaikat Jibril turun meminta saya menjadi Rais Aamm, saya tidak mau.”
Hal serupa juga terjadi pada KH. Mahrus Ali saat diminta menerima amanah tersebut. Beliau berkata:
“Jangankan Malaikat Jibril, jika Malaikat Izrail yang datang sekalipun, saya tetap tidak mau.”
Penulis
Asrifin An-Nakhrawie
Ketua PC LTN NU Lamongan