📅 Kamis, 4 Juni 2026  |  19 Dzulhijjah 1447 H

Lesbumi dan Tantangan Dakwah di Era Digital: Ketika Algoritma Mengancam Umat

Diskusi Lesbumi NU - Dakwah di Era Digital

Lesbumi dan Tantangan Dakwah di Era Digital: Ketika Algoritma Mengancam Umat

Ditulis berdasarkan diskusi Lesbumi NU yang diselenggarakan pada 22 Februari 2026.

Di tengah derasnya arus transformasi digital, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU menggelar sebuah forum diskusi yang tidak sekadar membicarakan kesenian — melainkan menggugat cara umat Islam hadir di ruang publik digital. Diskusi yang berlangsung penuh semangat itu menyentuh persoalan mendasar: sudahkah dakwah kita benar-benar siap menghadapi zaman yang bergerak dengan kecepatan scroll jari?


Indonesia: Juara Screen Time, Miskin Narasi Budaya

Salah satu fakta yang mencuat dalam forum tersebut cukup mengejutkan sekaligus memprihatinkan: Indonesia menempati posisi teratas dalam hal screen time — waktu yang dihabiskan warga di depan layar gawai. Ironisnya, di balik angka yang membanggakan itu tersimpan kenyataan pahit. Begitu banyak waktu yang dihabiskan di layar, namun konten tentang kebudayaan Islam Nusantara — dengan segala kekayaan dan kedalamannya — masih jauh tertinggal dibanding konten hiburan dangkal yang terus memenuhi linimasa.

Para peserta diskusi sepakat: inilah paradoks umat. Kita memiliki warisan peradaban yang luar biasa, tetapi gagap menyajikannya dalam bahasa visual yang berbicara kepada generasi kini.

“Indonesia sangat tertinggal dalam penyajian tentang segala bentuk kebudayaan melalui visual, melalui film. Padahal inilah yang paling berdaya di media sosial hari ini.”


Dakwah Masuk Kandang Algoritma

Diskusi ini tidak berhenti pada soal konten semata. Ada kekhawatiran yang lebih dalam yang disuarakan: ketika dakwah masuk ke media sosial, sesungguhnya ia tengah memasuki sistem yang — secara desain — dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan psikologi manusia.

Fenomena infinite scroll, mekanisme yang membuat pengguna terus-menerus menggulir layar tanpa henti, disebut secara gamblang dalam forum ini. Sistem ini bekerja dengan merangsang pelepasan dopamin di otak, menciptakan pola kecanduan yang halus namun nyata. Akibatnya, sejak media sosial memasuki genggaman masyarakat luas di awal 2010-an, angka kecemasan, depresi, dan kesepian di kalangan generasi muda justru meningkat tajam.

Pertanyaannya kemudian menjadi serius: jika kita berdakwah di dalam sistem yang secara inheren merugikan kejiwaan manusia, apakah kita sedang menyelamatkan umat — atau justru menjerumuskan mereka lebih dalam ke dalam sistem tersebut?


Lesbumi dan Tanggung Jawab Peradaban

Di sinilah relevansi Lesbumi menjadi terang benderang. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang seni dan budaya dalam naungan NU, Lesbumi tidak sekadar bertugas melestarikan tradisi. Ia dipanggil untuk menjadi produsen narasi — narasi yang cerdas, indah, dan memberdayakan; bukan sekadar menjadi pengekor tren yang datang dari luar.

Diskusi ini menegaskan: sudah waktunya Lesbumi tidak nanggung-nanggung. Di era digital yang sudah sepenuhnya visual ini, produk-produk kebudayaan Islam Nusantara harus dikemas dengan standar yang tidak kalah dari konten terbaik yang beredar di platform manapun. Film, konten visual, dan sajian budaya yang lahir dari rahim tradisi NU harus mampu bersaing — bukan hanya dalam kuantitas, tetapi dalam daya pikat dan kedalaman makna.

Ramadan pun disebut sebagai momentum yang tepat untuk perenungan ini. Ajaran Islam tentang pengendalian diri menjadi cermin: jika kita mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dalam hitungan menit, mengapa kita tidak mampu menahan diri dari jebakan algoritma yang melalaikan?


Penutup: Bukan Soal Viral, tapi Soal Nilai

Forum Lesbumi pada 22 Februari 2026 ini bukan sekadar diskusi teknis tentang konten digital. Ia adalah seruan peradaban. Seruan agar NU — dengan segala kekayaan tradisi intelektual dan seni budayanya — tidak menjadi penonton di panggung digital yang seharusnya bisa ia pimpin.

Di tengah dunia yang semakin dikuasai layar, pertarungan sesungguhnya bukan soal siapa yang paling viral. Ini soal nilai apa yang kita titipkan di balik setiap konten yang kita sebarkan. Dan Lesbumi, dengan akar tradisinya yang dalam, memiliki modal yang tidak dimiliki siapapun: keaslian.

Kini tinggal satu soal: apakah kita cukup berani untuk sungguh-sungguh menyajikannya?


📺 Tonton diskusi lengkapnya di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=Z6Pana01Cm8

Bagikan: