📅 Senin, 22 Juni 2026  |  7 Muharram 1448 H

Dari Meja Buka Puasa Alumni IPNU-IPPNU Lamongan: Silaturahim, Suudzon, dan Cermin Organisasi

Suasana hangat menyelimuti ruang pertemuan di SD NU Banat-Banin, Lamongan, pada Rabu malam, 4 Maret 2026. Para alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan berkumpul dalam sebuah Majelis Buka Bersama — bukan sekadar acara berbagi hidangan, melainkan sebuah forum refleksi yang memancarkan kejernihan pikir dan kedalaman rasa. Di antara suara takjil dan doa bersama, mengalirlah untaian hikmah tentang silaturahim sejati, spiritualitas puasa, dan penyakit tersembunyi yang perlahan menggerogoti kohesivitas organisasi.

Rekaman acara ini dapat disaksikan secara lengkap melalui kanal YouTube berikut: Buka Bersama Majelis Alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan.

Silaturahim: Lebih dari Sekadar Berkunjung

Salah satu poin pembuka yang menarik perhatian dalam forum itu adalah penegasan soal makna silaturahim. Dalam khazanah fiqih dan akhlak Islam, silaturahim yang sejati bukanlah semata-mata kunjungan antarkerabat yang sudah rukun dan dekat. Lebih dari itu, silaturahim yang paling tinggi nilainya — yang disebut al-washil — adalah ketika seseorang justru menyambung kembali hubungan yang telah putus.

“Ketika kamu diputus hubungan dengan persaudaraanmu, maka kamu yang menyambung — itu silaturahim. Al-Washil. Jadi kalau ada asal kekancen, kemudian sudah tidak kancanan, kamu tetap mau menyambung — itu namanya silaturahim yang sejati.”

Pernyataan ini bukan hal baru dalam literatur Islam, namun ia terasa sangat relevan disampaikan di tengah komunitas alumni yang telah lama berpencar. Pasca aktif di IPNU-IPPNU, banyak kader yang kemudian tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Buka bersama semacam ini menjadi momen langka untuk meneguhkan kembali ikatan yang mungkin mulai mengendur — bukan sekadar nostalgia, melainkan praktik silaturahim dalam artinya yang paling otentik.

Tasawuf di Meja Makan: Puasa dan Godaan Kelezatan

Forum ini juga menyentuh dimensi tasawuf secara ringan namun menghujam. Salah satu peserta menyampaikan pandangan menarik dari tradisi kaum sufi tentang cara memperlakukan momen berbuka puasa. Bila berbuka dijadikan ajang menikmati makanan lezat secara berlebihan, lalu kita bersyukur atas kelezatan itu — maka menurut para ahli tasawuf, rasa syukur itu justru akan “habis dipakai” di dunia, dan di hari kiamat yang tersisa hanyalah penyesalan.

“Kalau kita buka enak-enakan kemudian bersyukur — alhamdulillah buka sore iki enak, kolak enak, es enak — itu besok di hari kiamat karek getune (tinggal menyesalnya). Sebaliknya kalau di bulan Ramadan makannya sederhana, justru besok di akhirat bersyukur — alhamdulillah — ganjarane luwih akeh.”

Pesan ini bukan ajakan untuk menyiksa diri atau menafikan nikmat Allah. Ia adalah pengingat tentang orientasi: apakah puasa kita benar-benar melatih jiwa untuk zuhud, ataukah justru menjadi ajang kompensasi nafsu yang ditunda sejak subuh? Para sufi memahami bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendidik selera — agar jiwa tidak dikendalikan oleh kenikmatan indrawi.

Pandangan ini sejalan dengan prinsip yang diajarkan oleh para ulama besar NU: bahwa ibadah lahiriah perlu diimbangi dengan pembersihan batin. Ramadan adalah momentum terbaik untuk melatih keduanya secara bersamaan.

Penyakit Tersembunyi Organisasi: Suudzon Berselubung Senyum

Bagian paling tajam dari forum malam itu datang dari seorang rekanita alumni. Ia menyampaikan kegelisahan yang selama ini belum sempat terungkap: sebuah hadis yang menggambarkan kondisi umat di akhir zaman, di mana orang-orang tampak akur di permukaan, namun di dalam dada masing-masing menyimpan prasangka dan kecurigaan.

“Kalau ketemu kayaknya biasa-biasa saja. Tapi ketika orang yang kita temui itu lena sedikit, keluar, atau mungkur sedikit — kita sudah ngerasani. Ini penyakit yang paling kronis menurut saya.”

Ia menunjuk pada fenomena yang dengan jujur ia sebut sebagai realitas yang sudah terbukti di lingkungan organisasi NU sendiri. Senyum di depan, gunjingan di belakang. Suudzon yang terselubung rapat di balik jabat tangan dan salam. Kebaikan seseorang tertolak bukan karena ia berbuat salah, tetapi karena yang melihatnya sudah lebih dulu membangun tembok prasangka.

Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini kini hadir dalam wujud baru: gibah dengan jari. Kolom komentar media sosial, grup WhatsApp yang ramai, pesan berantai — semuanya menjadi arena baru bagi prasangka untuk menemukan salurannya. Seorang peserta forum yang dikenal aktif mengikuti kajian keislaman secara daring mengaku sangat berhati-hati dalam berkomentar, justru karena ia sadar betapa mudahnya lisan digital tergelincir ke dalam ghibah.

Obatnya: Husnudzon, Kumpul, dan Saling Mengingatkan

Merespons kegelisahan tersebut, para sesepuh yang hadir memberikan jawaban yang sederhana namun padat makna. Kuncinya ada dua: sering berkumpul, dan membiasakan melihat kebaikan orang lain.

“Kalau kita sering kumpul-kumpul begini, sering saling mengingatkan, insyaallah tidak akan terjadi. Sederhana: kalau kita bisa selalu melihat kebaikan teman kita dan melihat kejelekan kita sendiri, maka apa yang dikhawatirkan tadi tidak akan terjadi.”

Persis di sinilah letak nilai strategis dari forum-forum alumni seperti Majelis Buka Bersama ini. Ia bukan sekadar reuni. Ia adalah mekanisme penyehatan organisasi — cara paling organik untuk membangun kembali husnudzon, mendinginkan bara prasangka, dan meneguhkan komitmen bersama terhadap nilai-nilai kader NU.

Ramadan, dalam konteks ini, menjadi momentum yang sangat tepat. Puasa melatih kita menahan nafsu termasuk nafsu menilai buruk orang lain. Berbuka bersama mengingatkan kita bahwa kebersamaan adalah nikmat yang layak disyukuri. Dan forum refleksi seperti ini adalah bukti bahwa alumni IPNU-IPPNU Lamongan masih menyimpan kesadaran bahwa perjuangan di NU tidak berhenti ketika masa kader berakhir.

Penutup: Warisan Kader yang Terus Bergerak

Malam itu, di bawah cahaya hangat ruang SD NU Banat-Banin, para alumni IPNU-IPPNU Lamongan tidak hanya berbagi kolak dan kurma. Mereka berbagi cermin — saling merefleksikan diri, saling mengingatkan tentang bahaya suudzon, dan saling menghidupkan kembali semangat yang pernah menyala di masa aktif berorganisasi.

Pesan akhir yang bergema dari forum itu sangat jelas: jangan lihat jeleknya teman, lihat baiknya. Sebuah prinsip yang tampak sederhana, namun jika benar-benar dihayati, ia mampu mengubah iklim sebuah organisasi dari dalam — dari ruang pertemuan kecil di Lamongan, hingga ke seluruh jaringan gerakan Nahdlatul Ulama.

Saksikan rekaman lengkap Buka Bersama Majelis Alumni IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan di YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=qg236NhT8-g

Bagikan: