Diskusi buka bersama LP Ma’arif NU Lamongan pada 23 Februari 2026 bukan sekadar silaturahmi Ramadan biasa. Di dalamnya mengalir refleksi panjang, kritik konstruktif, hingga peta jalan organisasi yang dituntut warga NU sendiri untuk berbenah.
Sore itu, ruangan terasa hangat meski di luar mendung menggelayut. Para pengurus LP Ma’arif NU Lamongan berkumpul dalam forum buka bersama yang sejatinya merangkap sebagai ruang musyawarah dan muhasabah. Hadir sebagai narasumber, Cak Husin — mantan Ketua LP Ma’arif NU Lamongan yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah lembaga pendidikan NU di Lamongan.
Tema yang diusung hari itu bukan sekadar slogan: “Ma’arif Menjamin Mutu dan Menguatkan Kelembagaan untuk Memenangi Masa Depan.” Kalimat terakhirnya, “memenangi masa depan,” diakui sendiri oleh penyelenggara, dipinjam dari timeline PCNU Lamongan — sebuah frasa yang menyiratkan tekanan sekaligus harapan.
Warisan yang Belum Usang: Catatan dari Mantan Ketua
Cak Husin membuka paparannya bukan dengan teori, melainkan dengan kenangan yang mengundang tawa sekaligus renungan. Ia mengisahkan bagaimana LP Ma’arif Lamongan pernah mencatatkan rekor MURI — penyusunan puisi terbanyak se-Indonesia, sebanyak 11.000 puisi lebih, dilakukan di stadion dengan ratusan peserta. Bukan pamer prestasi, melainkan strategi.
“Kami tidak membahas RSI-nya. Yang kami bahas adalah tanah urunan orang NU di Surabaya,” ujarnya. Rekor itu dibuat sebagai momentum penggerak, agar kontribusi Ma’arif dalam pembangunan Rumah Sakit Islam Nashrul Ummah yang kala itu sedang diperjuangkan kembali ke pangkuan PCNU Lamongan, bisa terasa nyata dan memiliki daya tekan moral.
Kontribusi finansial pun tak main-main. Dari iuran siswa se-Lamongan — yang dikenal dengan sewu rupiah per semester — Ma’arif berhasil mengumpulkan hampir 7 miliar rupiah dalam rentang 2008 hingga sekitar 2011. Sebuah angka yang, jika dibayangkan dikumpulkan recehan demi recehan dari kantong pelajar madrasah, terasa luar biasa.
Namun cerita tidak selalu manis. Saat menjabat Ketua Ma’arif periode 2014–2018, Cak Husin mengaku “ditinggali hutang” sebesar 3,8 miliar rupiah — warisan produksi buku tematik yang keburu dicetak sebelum kebijakan negara selesai dirumuskan. “Negara juga lagi bingung mendesain tematik kayak apa,” katanya sambil tersenyum pahit. Tapi ia tidak menyerah. Tepat 3 tahun 8 bulan kemudian, di bulan Ramadan juga, seluruh hutang itu lunas.
“Budaya positifnya ternyata: ramai di internal, keluar dalam keadaan senyum.”
— Cak Husin, mantan Ketua LP Ma’arif NU Lamongan
667 Lembaga dan Medan Persaingan yang Sengit
LP Ma’arif NU Lamongan menaungi sekitar 667 lembaga pendidikan, di luar TK/RA yang amanat Muktamar diserahkan kepada Muslimat NU. Angka ini bukan kecil. Tapi justru di sinilah tantangan terbesarnya: persaingan.
Cak Husin menggambarkan situasinya dengan analogi yang mengundang tawa pengurus yang hadir: “Kayak tarungnya Indomaret sama Alfamart, ketambahan Serba Sunan Drajat.” Di mana ada SD negeri, di sebelahnya hampir pasti ada sekolah Ma’arif. Di sana ada Muhammadiyah. Di sana juga ada lembaga yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat yang terus berkembang.
Yang menjadi perhatian lebih dalam adalah soal data. Ia mendorong pengurus Ma’arif periode sekarang untuk melakukan evaluasi menyeluruh berbasis data — bukan berdasarkan suka atau tidak suka. Sekolah mana yang muridnya sudah di bawah 100? Mana yang hampir tutup? Tanpa data, langkah apapun hanya akan jalan di tempat.
Ia juga mengingatkan pelajaran pahit dari kebijakan wajib masuk pagi pada 2005. Ketika Bantuan Operasional Sekolah (BOS) mensyaratkan masuk pagi, sekolah-sekolah madrasah sore di Lamongan Kota nyaris lenyap. Dari belasan madrasah sore, hanya dua yang bertahan: di Kucur (Sukomulyo) dan Made. Yang lain gulung tikar. “Hati-hati, bantuan yang tiba-tiba dikrek, lalu semuanya ngikut,” pesannya.
Teknologi Bukan Ancaman, Tapi Senjata Dakwah
Satu bagian dari diskusi ini yang terasa paling relevan dengan zaman adalah soal teknologi. Dengan nada yang tegas namun humoris, Cak Husin memperingatkan bahwa medan dakwah dan pendidikan sudah bergeser.
“Dulu pertarungannya lewat like dan subscribe. Waktu COVID, semua pondok pesantren ngajinya pakai live. Yang jenggot-jenggot itu jungkel, karena modal semua — tokoh-tokohnya NU, orang intelektualnya NU — kalah,” ujarnya lugas.
Kini, ia menegaskan, pertarungan sudah naik level ke kecerdasan buatan (AI). “Besok pertarungannya melalui ChatGPT. Pinteran gunakno!” serunya. Ia bahkan mencontohkan: jika seseorang menanyakan soal Ma’arif ke mesin AI dan jawabannya sudah sesuai harapan organisasi, berarti narasi NU sudah berhasil mengisi ruang digital itu. Sebaliknya, jika belum — itu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Pesan ini bukan sekadar retorika. Di era di mana generasi muda mencari referensi agama dan pendidikan lewat mesin pencari dan asisten AI, lembaga pendidikan Islam yang abai terhadap teknologi akan tertinggal jauh.
Suara dari Akar Rumput: Ma’arif Jadi Prioritas Kedua PCNU
Bagian paling mengejutkan sekaligus menggembirakan dari diskusi ini disampaikan di penghujung forum oleh perwakilan PCNU Lamongan. Sebelum Ramadan, PCNU melakukan turba (turun bawah) ke seluruh MWC dan Ranting, meminta masukan dari warga NU tentang prioritas yang harus dijalankan PCNU dalam 5 tahun ke depan.
Dari 700 responden MWC, hasilnya berbicara sendiri:
- Penyelesaian Masjid KH Abdurrahman Wahid (Masjid Gus Dur) NU Lamongan
- Ma’arif — Pendidikan
- Ekonomi dan program-program lainnya
“Saya tidak tahu itu, bukan kami yang setting. Tapi bahwa MPC hari ini sangat berharap banyak terhadap pendidikan — dan itu adalah Ma’arif,” ungkap perwakilan PCNU dengan nada yang mencerminkan rasa tanggung jawab besar.
Temuan ini menjadi pijakan penting: Ma’arif bukan hanya soal internal organisasi, melainkan amanah warga NU yang harus dijawab dengan program nyata. PCNU mendorong LP Ma’arif untuk menggali lebih dalam: apakah yang diharapkan warga NU terkait penerbitan SK guru, inovasi pembelajaran, pelatihan, atau kualitas pelayanan sekolah.
Merawat Kepercayaan, Modal Utama Organisasi
Di antara banyak pesan yang mengalir dalam diskusi tersebut, satu kata kunci terus muncul: trust — kepercayaan. Cak Husin menyebutnya sebagai “modal utama” yang menjadi pondasi seluruh capaian Ma’arif di masa lalu.
Keterlibatan wali murid dan masyarakat dalam kebijakan lembaga, katanya, adalah kekuatan yang tidak boleh disepelekan. Di era perlindungan anak yang semakin ketat secara hukum positif, hubungan antara lembaga pendidikan dan orang tua murid harus dibangun dengan komunikasi yang terbuka, bukan pendekatan lama yang mengandalkan otoritas semata.
Ia juga mengingatkan soal dinamika internal organisasi. Dengan jumlah pengurus yang kini lebih besar dari periode sebelumnya, perbedaan latar belakang, cara berpikir, dan kepentingan adalah hal yang niscaya. “Dari berbagai macam spesies — maaf — dari berbagai macam otak, dari berbagai macam sumber, pasti ada batu kerikil. Tapi itu justru menjadi bumbu penyedap organisasi.”
Yang terpenting, pesannya sederhana: berangkatlah lebih awal, datanglah lebih dulu. Jangan menunggu kebijakan turun untuk bereaksi — tapi antisipasi, baca tanda-tanda, dan langkah mendahului. Itulah filosofi yang ia sebut sebagai karakter LSM yang harus dimiliki Ma’arif: selalu setapak lebih maju dari kebijakan yang akan datang.
Penutup: Bukan Nostalgia, Tapi Navigasi
Diskusi buka bersama itu memang tak menghasilkan dokumen resmi atau resolusi formal. Tapi nilai yang mengalir di dalamnya jauh lebih berharga: pengalaman yang diwariskan, masalah yang diakui, dan harapan yang diungkapkan secara jujur.
LP Ma’arif NU Lamongan kini berdiri di persimpangan: antara warisan sejarah yang membanggakan dan tantangan masa depan yang tidak bisa lagi dijawab dengan cara-cara lama. Antara 667 lembaga pendidikan yang mengandalkan kepercayaan warga NU, dan medan persaingan yang semakin kompetitif.
Ramadan kali ini, setidaknya, forum sederhana itu telah mengingatkan satu hal: bahwa memenangi masa depan tidak dimulai dari kantor atau rapat pleno — melainkan dari keberanian untuk jujur mengevaluasi diri, dan tekad untuk bergerak lebih awal.
📹 Saksikan rekaman lengkap diskusi ini:
Diskusi Buka Bersama LP Ma’arif NU Lamongan — YouTube
Liputan dan analisis berdasarkan rekaman diskusi buka bersama LP Ma’arif NU Lamongan, 23 Februari 2026.